8 Tahun Terpenjara karena Penodaan Agama, Asia Bibi Dibebaskan

Arpan Rahman    •    Kamis, 08 Nov 2018 12:57 WIB
pakistan
8 Tahun Terpenjara karena Penodaan Agama, Asia Bibi Dibebaskan
Asia Bibi (Photo:AFP)

Islamabad: Asia Bibi, seorang wanita Kristen Pakistan yang menghabiskan delapan tahun menghadapi hukuman mati karena penodaan agama dibebaskan dari penjara. Kebebasannya memicu rangkaian protes.

Pengadilan tertinggi negara itu pekan lalu membatalkan putusan hukum atas Bibi dan memerintahkan pembebasannya. Tetapi dia tetap ditahan sebab pemerintah mengizinkan peninjauan kembali menyusul protes kaum Muslim atas kasus yang memecah-belah negeri tersebut.

Para pejabat berkata, dia diterbangkan ke sebuah lokasi yang dirahasiakan di Islamabad. "Dia telah dibebaskan. Saya sudah diberitahu bahwa dia berada di pesawat, tetapi tidak ada yang tahu di mana dia akan mendarat," kata pengacara Saif-ul-Malook dalam pesan yang dikirim kepada AFP, 8 November 2018.

“Sebuah perintah pembebasan keluar Rabu di penjara di pusat kota Multan, tempat Bibi ditahan,” seorang pejabat penjara menambahkan.

Pihak berwenang bulan lalu mengatakan mereka menangkap dua tahanan karena diduga bersekongkol untuk mencekiknya, mendorong polisi dan pasukan tambahan dikerahkan ke fasilitas itu.

Pengadilan dan penahanan Bibi berawal dari insiden pada 2009 ketika dia diminta untuk mengambil air saat bekerja di ladang di Distrik Sheikhupura, Punjab.

Bibi mencelupkan cangkirnya ke dalam mangkuk air. Para buruh wanita Muslim keberatan, mengatakan bahwa sebagai seorang non-Muslim, dia tidak boleh menyentuh mangkuk air, dan dilaporkan bahwa perkelahian terjadi.

Seorang imam setempat kemudian mengklaim bahwa Bibi menghina Nabi Muhammad, tuduhan yang dibantahnya.

Ribuan Muslim turun ke jalan sebagai protes setelah hakim Mahkamah Agung membatalkan vonis Bibi, Rabu lalu, menutup jalan di sejumlah kota besar Pakistan selama tiga hari demonstrasi terhadap pembebasannya. Mereka mengancam akan meningkatkan protes jika dia diizinkan meninggalkan negeri itu.

Suaminya Ashiq Masih sudah meminta Inggris atau Amerika Serikat  memberi suaka keluarga. Sementara pengacara Malook telah melarikan diri ke Belanda.

Ashiq dan anak-anak mereka bersembunyi di sebuah alamat rahasia di Pakistan, hidup dalam ketakutan akan balas dendam. Dia memberi tahu Aid to the Church in Need, sebuah badan amal, bahwa mereka putus asa untuk meninggalkan negara tersebut.

"Bantu kami keluar dari Pakistan. Kami sangat khawatir karena hidup kami dalam bahaya. Kami tidak lagi memiliki apapun untuk dimakan, karena kami tidak dapat meninggalkan rumah buat membeli makanan," katanya.

Pemerintah telah mengindikasikan akan melarangnya bepergian ke luar negeri.


(FJR)