Serang Pemerintah, Mantan Menteri Bangladesh Divonis Mati

Arpan Rahman    •    Jumat, 12 Oct 2018 10:12 WIB
politik bangladeshbangladesh
Serang Pemerintah, Mantan Menteri Bangladesh Divonis Mati
Ilustrasi oleh Medcom.id

Dhaka: Pengadilan di Bangladesh telah menjatuhkan hukuman mati kepada 19 orang, termasuk dua mantan menteri, dan menghukum seorang pemimpin oposisi dengan penjara seumur hidup. Mereka dianggap terlibat atas serangan 2004 terhadap Perdana Menteri Sheikh Hasina.
 
"Mereka akan dihukum gantung di leher mereka," kata Hakim Shahed Nuruddin dari pengadilan khusus, seperti dinukil dari Al Jazeera, Jumat 12 Oktober 2018.
 
Ia juga mengenakan hukuman penjara seumur hidup kepada Tarique Rahman, putra mantan Perdana Menteri Khaleda Zia yang diasingkan. Zia saat ini mendekam di dalam penjara Dhaka setelah putusan dalam kasus korupsi, yang terbit sebelum pemilihan umum negara yang akan diadakan pada akhir tahun ini.
 
Rahman, yang bertindak sebagai ketua oposisi Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), dipenjara selama 10 tahun secara absentia dalam kasus korupsi yang sama dengan ibunya. Dia tinggal di pengasingan di London sejak 2008.
 
Menteri Kehakiman Bangladesh Anisul Haque berkata, pemerintah akan menggelar pengadilan yang lebih tinggi demi memburu hukuman mati bagi Rahman juga. "Kami juga akan mengambil langkah diplomatik untuk membawa Tarique kembali dari London," katanya.
 
Keamanan di dan sekitar pengadilan khusus di ibukota, Dhaka, ditingkatkan guna mengantisipasi protes dari para pemimpin dan aktivis BNP.
 
Para pemimpin senior BNP, termasuk mantan Menteri Negara Dalam Negeri, Lutfuzzaman Babar dan mantan Wakil Menteri Pendidikan, Abdus Salam Pintu, dijatuhi hukuman mati karena telah merancang plot untuk membunuh Hasina. BNP mengatakan bahwa putusan itu bermotif politik dan partai tidak menerimanya.
 
Mirza Fakhrul Islam Alamgir, sekretaris jenderal partai, mengatakan putusan terhadap para pemimpinnya adalah "hanya contoh lain menggunakan peradilan untuk membalas dendam politik".
 
Serangan 2004
 
"Kasus serangan granat 21 Agustus", seperti yang dikenal di Bangladesh, terkait dengan serangan mematikan terhadap unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Liga Awami (AL) Hasina (AL) di Dhaka pada 2004 ketika ia menjadi pemimpin oposisi.
 
Hasina nyaris jadi korban serangan itu setelah beberapa pemimpin partainya membentuk perisai manusia di sekelilingnya, tetapi akibatnya 20 orang tewas, termasuk pemimpin AL teratas Ivy Rahman.
 
Dokumen-dokumen kasus mengatakan serangan itu adalah plot yang dirancang cermat untuk membunuh Hasina yang didesain oleh BNP. Pemerintah koalisi BNP dan Jamaat-e-Islami, yang berkuasa pada saat serangan itu, dituduh mempercepat penyelidikan buat melindungi dalangnya.
 
Setelah putusan pada Rabu, Sayed Rezaur Rahman, salah satu jaksa utama, mengatakan, "Serangan granat tersebut dianggap sebagai salah satu kejahatan paling keji dalam sejarah negara ini. Ini bukan kasus bermotif politik, melainkan kasus kriminal."
 
Menurut dokumen yang diajukan oleh jaksa, serangan itu dilakukan oleh kelompok bersenjata, Harkat-ul-Jihad (HuJI).
 
BNP menuduh bahwa Hasina membungkam perbedaan pendapat dan menjebloskan seterunya di balik jeruji besi untuk memperkuat posisinya di pemilu.


(FJR)