Diancam Duterte, Pasukan AS Tetap Berlatih di Filipina

Willy Haryono    •    Rabu, 16 Nov 2016 16:31 WIB
as-filipina
Diancam Duterte, Pasukan AS Tetap Berlatih di Filipina
Prajurit Filipina dan AS berlatih bersama di San Antonio, Zambales, 9 Oktober 2015. (Foto: AFP/TED ALJIBE)

Metrotvnews.com, Manila: Pasukan Filipina dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan gabungan pekan ini. 

Latihan tetap digelar meski Presiden Rodrigo Duterte pernah mengancam mengakhiri program operasi gabungan dan mengusir prajurit AS dari Filipina.

Duterte pernah menyerukan pengusiran pasukan AS dari negaranya dan menyebut Presiden Barack Obama sebagai "anak pelacur" terkait kritikan terhadap kebijakan perang melawan narkotika dan obat-obatan terlarang di Filipina. 

Dia juga mengumumkan rencana mengakhiri latihan gabungan, setelah ratusan prajurit AS dan Filipina mengakhiri operasi mereka sebulan lalu.

Juru bicara militer Filipina mengatakan latihan gabungan akan berlangsung satu bulan dan melibatkan sekitar 30 hingga 40 prajurit Filipina serta sejumlah tentara Negeri Paman Sam. 

"Ini adalah aktivitas bilateral dalam skala yang sangat kecil," ujar Brigadir Jenderal Restituto Padilla kepada AFP, Rabu (16/11/2016). Latihan sudah dimulai pekan ini di pulau Palawan, Filipina bagian barat. 

Kolonel Benjamin Hao mengungkapkan latihan bersama bertujuan "menguji kemampuan dasar berperang prajurit dan meningkatkan hubungan militer kedua negara."


Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: AFP)

Harry Harris, pemimpin Komando Pasifik AS, menegaskan kerja sama militer Washington dengan Manila belum berubah hingga saat ini. 

Saat ini militer Filipina masih menunggu arahan Duterte apakah akan melanjutkan latihan gabungan dengan AS tahun depan. Biasanya, Filipina menggelar 28 latihan di setiap tahunnya. 

Sikap keras Duterte terhadap AS ditunjukkan secara terang-terangan, dengan menyerukan agar Pasukan Khusus AS angkat kaki dari Mindanao. Pasukan Khusus AS disiagakan di sana untuk melatih prajurit lokal dalam latihan antiterorisme. 

Perang melawan kejahatan narkoba yang diluncurkan Duterte telah menewaskan sekitar 4.000 orang. PBB, Uni Eropa dan sejumlah grup hak asasi manusia mengecam tindakan Duterte. 

Namun Duterte menegaskan tidak berbuat ilegal, dan justru mengaku akan "dengan senang hati membantai" tiga juta orang terkait kejahatan narkoba.


(WIL)