Hadapi Tantangan, Gerakan Non Blok Harus Ubah Cara Pikir

Fajar Nugraha    •    Jumat, 16 Sep 2016 07:45 WIB
ktt gnb
Hadapi Tantangan, Gerakan Non Blok Harus Ubah Cara Pikir
Menlu Retno Marsudi di KTT GNB (Foto: Kemenlu RI)

Metrotvnews.com, Pulau Margarita: Peran strategis harus dimainkan oleh Gerakan Non-Blok (GNB). Hal ini yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
 
"Di abad ke-21 Gerakan Non Blok (GNB) harus memainkan peran strategis, menjadi mitra global yang bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi rakyatnya," tegas Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan pada pertemuan tingkat Menteri GNB menjelang berlangsungnya KTT GNB ke-17, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Jumat (16/9/2016).
 
KTT GNB kali ini akan diselenggarakan dengan tema "Peace, Sovereignty and Solidarity for Development" di Pulau Margarita, Venezuela, mulai 17-18 September 2016.
 
"Tema KTT GNB ke-17 'Perdamaian, Kedaulatan dan Solidaritas bagi Pembangunan' merupakan prinsip-prinsip dasar dari pembentukan GNB. Namun setelah 55 tahun sejak terbentuknya GNB dunia masih dibayangi dengan kurangnya perdamian, belum tercapainya kedaulatan dan solidaritas," ucap Menlu Retno.
 
Hal ini dapat dilihat dari berbagai tantangan dan krisis yang dihadapi dunia saat ini, seperti ketidakseimbangan pada politik dan ekonomi global, krisis pengungsi, ancaman dari terorisme, radikalisme dan ektrisme serta konflik dan ketidak percayaan antar negara termasuk diantara negara GNB.
 
Menanggapi berbagai tantangan yang dihadapi, Menlu RI perempuan pertama itu menekankan bahwa perlu adanya perubahan cara pikir oleh GNB. "Dunia saat ini memerlukan Gerakan Non Blok abad ke-21, yaitu GNB yang berwawasan luas, pragmatis, inovatif dan efisien," ujarnya.
 
Setidaknya ada tiga langkah nyata mewujudkan GNB di abad-21. Pertama, GNB perlu memperkuat semangat multilateralisme dimana seluruh negara memiliki suara yang sama. "GNB harus mendorong secara aktif dan memberikan kontribusi positif terhadap upaya reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya Dewan Keamanan dan Sekretariat PBB agar lebih selaras, transparan, efisien dan representatif," tutur mantan Dubes RI untuk Belanda itu.
 
Kedua, GNB juga harus memberikan kontribusi terhadap upaya penanganan tantangan ekonomi global melalui kemitraan global yang melibatkan seluruh pihak, termasuk kerja sama antar negara maju dan berkembang.
 
Ketiga, negara-negara GNB juga perlu segera melakukan benah diri internal terkait cara kerja GNB agar tidak terjebak menjadi talk shop organization. Benah diri sangat diperlukan agar GNB menjadi organisasi yang memiliki kredibilitas tinggi, relevan, dan efektif dalam penanganan masalah global. 
 
"Anggota GNB harus memimpin dengan memberi contoh memastikan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan di tingkat global diterapkan di negaranya masing-masing, menyelesaikan berbagai masalah yang ada di dalam negeri dan dikawasannya," imbuh Menlu.
 
Pada kesempatan KTM GNB, Menlu RI juga menyampaikan rencana pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020.
 
KTT GNB ke-17 akan dipimpin oleh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro Moros, yang akan menjadi Ketua GNB periode 2016-2019 menggantikan Iran yang telah menjadi Ketua GNB sejak 2012. Delegasi Indonesia akan dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
 
Adapun KTT ini akan mengesahkan Dokumen Akhir, yang berisikan pandangan negara-negara GNB terhadap berbagai permasalahan global, serta Deklarasi Margarita yang berisi penegasan seluruh Kepala Negara/Pemerintah negara GNB mengenai berbagai prinsip serta nilai-nilai bersama GNB serta beberapa tantangan global yang menjadi perhatian bersama seluruh anggota GNB.



(FJR)