Diadili, Mantan PM Thailand dapat Kejutan dari Pendukung

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Jul 2017 17:08 WIB
politik thailand
Diadili, Mantan PM Thailand dapat Kejutan dari Pendukung
Mantan PM Thailand Yingluck Shinawatra dapatkan bunga mawar dari pendukungnya (Foto: Bangkok Post).

Metrotvnews.com, Bangkok: Perdana Menteri Thailand yang terguling, Yingluck Shinawatra, menerima kejutan dari para simpatisannya, Jumat 21 Juli 2017. Banyak dari mereka yang membawa mawar merah, saat ia tiba di pengadilan untuk menghadiri sidang tahap akhir atas sebuah kasus dengan dakwaan kelalaian kriminal yang mengancamnya hukuman penjara 10 tahun.
 
Dia dituduh gagal menghentikan korupsi dalam kebijakan subsidi beras -- yang menyalurkan uang tunai ke basis pertanian pedesaan miskin -- namun menghabiskan uang miliaran dolar perbendaharaan Thailand.
 
Para pendukungnya menyatakan bahwa kasus tersebut didorong oleh junta yang menggulingkan pemerintahannya pada 2014. Pihak pengadu dikatakan bertekad menyingkirkan pewaris klan superkaya itu dari panggung politik Thailand.
 
Saudara laki-lakinya, Thaksin, yang mengepalai keluarga Shinawatra, digulingkan sebagai perdana menteri dalam sebuah kudeta pada 2006. Kemudian dia melarikan diri dari negara tersebut karena dituntut tuduhan korupsi.
 
Kasus Yingluck menjadi yang pertama kalinya seorang Perdana Menteri Thailand menghadapi tuntutan atas hasil sebuah kebijakan ekonomi. Di Negeri Gajah Putih, kebijakan populis biasa terjadi, sementara pengeluaran militer mengucur tanpa pengawasan serius.
 
Yingluck menyeka air matanya ketika memeluk para pendukung dan berpose untuk difoto dengan kerumunan sekitar 500 simpatisan yang berkumpul di luar pengadilan Bangkok. Mereka menggenggam kembang mawar dan balon warna-warni.
 
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua media dan orang-orang yang datang ke sini demi mendukung saya," katanya dalam sebuah komentar singkat kepada pers, seperti disitat Bangkok Post, Jumat 21 Juli 2017.
 
Sesudah saksi-saksi yang tersisa didengarkan kesaksian mereka, Jumat, bisa jadi Yingluck memberikan pernyataan pembelaan terakhirnya. Usai persidangan, hakim punya waktu satu bulan buat menyampaikan vonis.
 
Membungkam demokrasi
 
Perdana menteri wanita pertama Thailand dipecat karena menyalahgunakan kekuasaan dan dilarang berpolitik setelah kudeta.
 
Tapi dia tetap merupakan kekuatan yang menarik hati di antara para pendukungnya. Persidangan mengubahnya menjadi seorang martir bagi gerakan demokrasi yang telah meredup di bawah pemerintahan junta.
 
"Orang-orang menyukai keluarga Shinawatra karena mereka membantu rakyat kecil mendapat uang dan mencari nafkah," kata Wachiraporn Laongnual. Ia mengaku melakukan perjalanan dua jam untuk menghadiri setiap sidang pengadilan.
 
Para petani di antara kerumunan di luar pengadilan membela kebijakan beras Yingluck. Karena mereka tahu pemerintah membayar hampir dua kali harga pasar untuk padi.
 
"Dalam skema soal beras Yingluck, beras dibeli oleh pemerintah dan petani bisa hidup dengan baik. Sekarang ini adalah sebuah perjuangan," kata Nantha Phunen. Ia menambahkan bahwa dirinya dililit hutang di tengah harga beras yang anjlok.
 
Langkah mantan PM itu diikuti oleh puluhan politisi Partai Pheu Thai di tangga pengadilan, suatu pertemuan politik langka di bawah pengawasan ketat oleh junta.
 
Junta sudah berjanji menyelenggarakan pemilu, tahun depan. Tapi sebuah piagam yang baru ditulis sudah melucuti kembali kekuatan jajaran politisi terpilih dan menciptakan majelis tinggi yang sepenuhnya ditunjuk saja.
 
Klan Shinawatra dan sekutu mereka memenangkan setiap pemilu sejak 2001. Namun jaringan politik mereka telah digerus kudeta dan kasus hukum yang tidak ada habisnya.
 
Junta Thailand, yang mewakili elite pendukung raja Bangkok-sentris, menolak untuk menerima legitimasi kemenangan elit Shinawatra. Sembari mengecam politik mereka sebagai tindakan kriminal dan korup.
 
Yingluck juga menghadapi aksi sipil demi mendapatkan kompensasi sebesar USD1 miliar untuk program subsidi beras yang membayar petani dua kali lipat dari harga hasil panen mereka.



(FJR)