Bawa 20 Pisau Lipat, Mesir Deportasi Mahasiswa Indonesia

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 03 Jan 2018 15:51 WIB
deportasi wni
Bawa 20 Pisau Lipat, Mesir Deportasi Mahasiswa Indonesia
Mahasiswa Indonesia ditahan otoritas Bandara Mesir karena bawa pisau lipat. (Foto: Ilustrasi Metrotvnews.com).

Bawa 20 Pisau Lipat, Mesir Deportasi Mahasiswa Indonesia
 
Kairo: Pemerintah Mesir memutuskan mendeportasi mahasiswa Indonesia bernama Zikrillah Syahrul. Pria asal Aceh tersebut ketahuan membawa senjata tajam sejenis pisau lipat sebanyak 20 unit.
 
Peristiwa ini terjadi pada 29 Desember 2017 di Bandara Internasional Kairo. Kala itu, yang bersangkutan tiba dari Indonesia via Abu Dhabi menggunakan maskapai penerbangan Etihad.
 
Senjata tajam yang dibawanya terdeteksi di mesin pemindai. Zikrillah ditahan otoritas bandara karena barang bawaannya tersebut.
 
Berkas perkaranya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Heliopolis, Kairo dan dikenakan pasal penyelundupan barang terlarang ke wilayah Mesir dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

(Baca: Alasan Keamanan, Mesir Deportasi Satu Mahasiswa asal Indonesia)
 
Sejak hari pertama ditangkapnya Zikrillah, Kedutaan Besar RI di Kairo (KBRI Kairo) sudah melakukan pendampingan dan bantuan hukum. Tak hanya itu, KBRI Kairo juga melakukan pendekatan kepada lapisan unsur penentu pengambil keputusan di Kairo.
 
Secara tertulis, Pengadilan Negeri Heliopolis membebaskan warga Aceh itu dari tuntutan hukum, namun keputusan final tetap berada di tangan National Security.
 
"Upaya KBRI untuk membebaskan yang bersangkutan terkendala dengan sikap National Security yang menghindar untuk menerima langkah kompromi," demikian dikutip dari pernyataan tertulis KBRI Kairo yang diterima Medcom.id, Rabu 3 Januari 2018.
 
Akhirnya, pemerintah Mesir memutuskan mendeportasi Zikrillah karena izin tinggal pria tersebut habis pada 31 Desember 2017. Dia kemudian diputuskan harus meninggalkan Mesir dan kembali ke Indonesia pada 3 Januari 2018.
 
Penangkapan Zikrillah bersamaan dengan peristiwa penembakan dan pembunuhan sekelompok orang bersenjata di depan Gereja Mar Mina di kota Helwan, Kairo. Insiden itu mengakibatkan 12 orang tewas, termasuk di antaranya perwira menengah aparat keamanan Mesir dan jemaat gereja.
 
Zikrillah mengaku senjata tajam yang dia punya sebagai milik pribadi dan akan dibagikan kepada temannya sebagai cindera mata. Pengakuannya ini membuat dia mendapatkan keputusan deportasi.
 
Dia mengaku kepada KBRI Kairo, senjata tajam itu sebenarnya milik FNS, salah seorang mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar, yang dibeli dari sebuah toko di Surabaya melalui toko online. FNS meminta tolong barang tersebut dibawakan Zikrillah karena mengetahui yang bersangkutan akan terbang kembali ke Kairo.
 
KBRI Kairo sendiri telah memanggil FNS untuk dimintai keterangan. Kepada KBRI, FNS mengakui semua tindakannya dan bertanggung jawab tidak akan mengulangi perbuatan melanggar peraturan di Mesir dan Indonesia.
 
Zikrillah merupakan mahasiswa Indonesia asal Aceh yang tengah menempuh pendidikan program master dan dalam penyusunan tesis di Institute Liga Arab Kairo.

(FJR)