Dubes Afghanistan: Perempuan Harus Sadar Talenta dan Potensi Diri

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 22 Nov 2017 18:47 WIB
afghanistankesetaraan gender
Dubes Afghanistan: Perempuan Harus Sadar Talenta dan Potensi Diri
Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, Roya Rahmani (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, Roya Rahmani mengatakan, wanita memiliki hak untuk kesetaraan gender. Namun, mereka juga harus menyadari potensi dan talenta yang mereka punya.

Bagi dia, kesetaraan gender bukan pikiran untuk mengalahkan laki-laki.

"Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki harus kalah, tapi bagaimana perempuan dan laki-laki bisa bersanding sejajar untuk masa depan dunia," ujarnya dalam acara Diplomatic Forum: Empowering to Increase Woman's Dignity, di Jakarta, Rabu, 22 November 2017.

Roya Rahmani menuturkan, pola pikir masyarakat Afghanistan sendiri saat ini sudah berubah. Kaum adam dan hawa di Afghanistan memandang bahwa perempuan juga punya peran penting bagi negara.

"Sebab, sebagai sebuah negara dengan penduduk mayoritas Muslim, partisipasi perempuan Indonesia tidak dikesampingkan, malah beberapa di antaranya menduduki posisi yang tinggi di pemerintahan.Adalah tanggung jawab Indonesia untuk berbagi. Kalian diberkati," tegas Roya.

Komisioner Komnas Perempuan, Nina Nurnila menjelaskan, Indonesia sendiri sudah mulai mendukung pemberdayaan perempuan. Meskipun parlemen masih didominasi laki-laki, paling tidak para menteri Tanah Air sudah mulai diisi oleh perempuan. "Untuk itu negara ini sedang menuju ke arah sana," seru Nina.

Kepala RRI World Service Voice of Indonesia, Anhar Achmad, menjelaskan tindakan kekerasan terhadap kaum perempuan bukan hanya masalah individu ataupun nasional, namun juga masalah global. Menurutnya, satu langkah yang dapat diambil dalam upaya menekan angka kekerasan terhadap kaum perempuan yakni dengan pemberdayaan.

Pada forum PBB September 2015 lalu di New York, Amerika Serikat, seluruh negara anggota termasuk Indonesia bersama UN Women mencanangkan Planet 2030. Wacana itu untuk kesetaraan gender 50:50 atau kondisi saat satu negara sudah tercipta keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam semua aspek.

Hal ini dapat tercapai, salah satunya dengan meningkatkan pemberdayaan kaum perempuan di berbagai bidang.



(FJR)