Clinton Sebut Trump Pebisnis Egois

Willy Haryono    •    Selasa, 04 Oct 2016 11:02 WIB
pemilu as
Clinton Sebut Trump Pebisnis Egois
Hillary Clinton dalam kampanye di Toledo, Ohio, AS, 3 Oktober 2016. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Metrotvnews.com, Toledo: Hillary Clinton memanfaatkan salah satu momen terburuk Donald Trump dalam pertarungan keduanya menuju kursi kepresidenan Amerika Serikat.

Trump terpuruk usai surat kabar The New York Times merilis beberapa lembar laporan pajak milik capres asal Partai Republik itu, yang mengindikasikan penghindaran pembayaran pajak selama 18 tahun. 

Clinton menyebut Trump sebagai pebisnis egois yang tidak peduli dengan sesama warga negara AS.

"Saat jutaan keluarga Amerika, termasuk saya dan kalian semua, bekerja keras dan membayar pajak, sepertinya dia tidak berkontribusi terhadap negara kita. Coba kalian semua bayangkan hal tersebut," ujar Clinton yang berapi-api, dalam sebuah kampanye di Toledo, Ohio. 

"Dia telah 'menghina' Amerika dalam keseluruhan kampanye ini," sambung dia, seperti dilansir AFP, Senin (3/10/2016). 

Tim kampanye Clinton menyebut artikel The New York Times sebagai sesuatu yang mengejutkan. Kubu Trump enggan mengonfirmasi maupun membantah, namun menegaskan The New York Times telah mendapatkan laporan itu secara ilegal. 



Dalam laporan The New York Times, Trump disebut mengalami kerugian besar senilai USD915 juta atau setara Rp11 triliun pada 1995. 

Sesuai aturan perpajakan di AS, individu kaya raya dapat mengimbangi nilai penghasilannya dengan kerugiannya dalam berbagai kemitraan dan bisnis. Dengan begitu, Trump dapat secara legal menghindari kewajiban membayar pajak. 

Gubernur New York Chris Christie menilai The New York Times telah menulis "artikel yang sangat bagus" karena menyoroti kegeniusan Trump

Mantan Wali Kota New York Rudy Giuliani melontarkan komentar senada. "Benar-benar genius. Ini (Trump menghindari pajak) benar-benar legal dan sesuai aturan perpajakan. Dan dia tentu memanfaatkan aturan tersebut," sebut Giuliani. 

Selain Christie dan Giuliani, tokoh Republik lainnya enggan mengomentari masalah pajak Trump. Bulan lalu, Ketua DPR AS Paul Ryan mendesak Trump untuk segera merilis laporan pajaknya. Kepala Mayoritas Senat Mitch McConnell juga mengutarakan hal serupa pada Juni. 

Selain masalah pajak, Trump semakin terpuruk setelah Jaksa Agung New York Eric Schneiderman memerintahkan penutupan Yayasan Donald J. Trump. Schneiderman menyatakan yayasan tersebut telah menggalang dana secara ilegal karena belum terdaftar secara hukum.


(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA