Fidel Castro, Gus Dur, dan Perlawanan Negara Berkembang

Sobih AW Adnan    •    Sabtu, 26 Nov 2016 22:08 WIB
fidel castro wafat
Fidel Castro, Gus Dur, dan Perlawanan Negara Berkembang
Soekarno dan Fidel Castro saat bertemu di Havana, Kuba pada 1960 (Foto: Pinterest)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro tengah sibuk menyiapkan Pertemuan Internasional Kelompok 77. Agenda dengan semangat meneruskan ide gerakan nonblok Soekarno itu membuatnya lupa menyambut kedatangan Presiden Indonesia, Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid. Sebagai gantinya, tepat pada 11 April 2000, Castro menyambangi Hotel Melia Havana, tempat Gus Dur menginap.

Baca: Persahabatan Erat Fidel Castro dan Bung Karno

Putri mendiang Gus Dur, Yenny Zanubah Wahid menceritakan 40 menit pertemuan Gus Dur dan Castro malam itu. Katanya, kedatangan langsung Castro ke tempat singgah Gus Dur lantaran ada rasa saling kagum keduanya yang terpendam. Castro mengagumi komitmen Gus Dur untuk tetap hadir dalam pertemuan meski ada ungkapan keberatan dari Amerika Serikat (AS).

"Gus Dur dan Castro bertemu di titik keinginan untuk memperjuangkan kepentingan orang-orang tertindas," kata Yenny kepada Metrotvnews.com melalui pesan singkat, Sabtu (26/11/2016).

Kedatangan tiba-tiba Castro di kamar Gus Dur tentu membuat rombongan Indonesia panik. Setelah pertemuan, Gus Dur menceritakan tentang satu pertanyaan Castro yang dijawabinya dengan sebuah lelucon.

"Gus Dur menceritakan kekaguman Castro kepada Presiden Indonesia sebab sanggup memimpin 200 juta jiwa rakyat dengan kepentingan beragam. Sementara ia sendiri, merasa begitu kerepotan meski hanya memimpin belasan juta jiwa saja," tutur Yenny yang kala itu turut dalam rombongan.

Gus Dur membalasnya dengan kelakar bertajuk Presiden Indonesia dan kegilaannya. Dalam kelakar itu, Gus Dur menyebut bahwa Presiden Soekarno gila wanita, Soeharto gila harta, Habibie gila pengetahuan.

"Sementara saya, kata Gus Dur, membuat semua orang jadi gila, atau dipilih orang-orang gila," ujar Yenny.

Yenny mengenang, Gus Dur dan Castro merupakan dua sosok yang pernah getol mewujudkan kemandirian bangsa dan terus berikhtiar memerdekakan diri dari intervensi negara Barat. Ia juga, lanjut Yenny, menghargai semangat Gus Dur dalam upaya mencari keseimbangan baru hubungan Barat dan Selatan.

"Khususnya negara-negara berkembang," kata dia.

Baca: 634 Kali Upaya Pembunuhan Dihadapi Fidel Castro

Sempat diperingati AS, Gus Dur tetap ingin melanjutkan lawatannya ke Negeri Paman Sam. Hanya saja, agenda itu urung lantaran mendapat tanggapan dingin dari Kementerian Luar Negeri AS karena tetap menghadiri undangan Fidel Castro.

"Pada awalnya Gus Dur berencana meneruskan perjalanannya ke Washington setelah konferensi usai. Akan tetapi ia membatalkannya," tulis Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid.

Fidel Castro meninggal dunia di Havana, Jumat (25/11/2016) malam waktu setempat. Castro meninggal di usia 90 tahun. Pengumuman meninggalnya Castro disampaikan Presiden Raul.


(DEN)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA