Qatar Kecam Arab Saudi yang Menolak Negosiasikan Tuntutan

Willy Haryono    •    Rabu, 28 Jun 2017 18:48 WIB
kisruh qatar
Qatar Kecam Arab Saudi yang Menolak Negosiasikan Tuntutan
Menlu Qatar Syekh Mohammad bin Abdulrahman Al-Thani (kiri) berjabat tangan dengan Menlu AS Rex Tillerson. (Foto: Getty Images)

Metrotvnews.com, Washington: Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Mohammed Al Thani mengecam Arab Saudi dan beberapa negara Teluk lainnya yang menolak bernegosiasi terkait daftar tuntutan kepada Doha. 

Syekh menyebut penolakan semacam itu "bertentangan dengan prinsip-prinsip" hubungan internasional. 

Jumat pekan lalu, negara-negara Teluk menyerahkan daftar tuntutan berisi 13 poin kepada Qatar. Beberapa poin itu di antaranya mendesak Qatar menutup jaringan kantor berita Al Jazeera, menutup pangkalan militer Turki, memuts hubungan dengan Ikhwanul Muslimin dan mengurangi kemitraan dengan Iran. 

Bertemu Menlu Amerika Serikat Rex Tillerson di Washington pada Selasa 27 Juni 2017, Syekh Mohammed menyebut penolakan negara-negara Teluk "tidak dapat diterima." 

"Ini bertentangan dengan prinsip hubungan internasional. Anda tidak bisa hanya menyerahkan tuntutan tapi menolak bernegosiasi," ungkap Syekh Mohammed, seperti dikutip BBC

Sementara itu Menlu Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menegaskan tidak akan ada negosiasi atau kompromi soal daftar tuntutan yang sudah diberikan kepada Qatar, terutama tuntutan agar Qatar berhenti mendukung terorisme.

"Kami membuat tuntutan kami, kami mengambil langkah kami. Terserah Qatar bagaimana akan mengubah perilaku mereka. Jika tidak merubah, mereka akan tetap terisolasi," kata Jubeir.

"Jika Qatar ingin kembali ke Dewan Kerja sama Teluk, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan," tegas dia.

Tillerson sebelumnya pernah mengatakan tuntutan kepada Qatar haruslah "masuk akal dan dapat dipatuhi." Ia juga menilai tuduhan negara-negara Teluk terhadap Qatar harus bisa didiskusikan. 

"Qatar siap terlibat dalam diskusi konstruktif dengan pihak-pihak terkait jika mereka ingin mencapai sebuah solusi dan mengakhiri krisis ini," sebut Syekh Mohammed.


(WIL)