AS Belum Terima Permintaan Tarik Pasukan dari Filipina

Willy Haryono    •    Selasa, 13 Sep 2016 12:13 WIB
as-filipina
AS Belum Terima Permintaan Tarik Pasukan dari Filipina
Dua prajurit Pasukan Khusus AS mendemonstrasikan latihan mengobati luka kepada tentara FIlipina di kota Munai, Mindanao, 17 Februari 2009. (Foto: AFP/CHERRYL VERGEIRE)

Metrotvnews.com, Washington: Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan belum menerima permintaan resmi dari Filipina untuk menarik kekuatan militer Negeri Paman Sam dari area yang dikuasai pemberontak di wilayah selatan.

Sejak 2002, sekitar 600 penasihat militer AS dikirim ke Mindanao untuk melatih pasukan lokal dalam upaya memerangi ekstremis. Jumlah penasihat AS tersebut terus menurun dari tahun ke tahun. 

Sepekan setelah menyebut Presiden Barack Obama sebagai "anak pelacur," Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta agar Pasukan Khusus AS di Mindanao "harus pergi."

Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay mencoba mengklarifikasi ucapan keras Duterte. Ia mengatakan ucapan presiden dilontarkan "dalam konteks menyelamatkan nyawa para tentara AS yang terancam diserang militan."

Sementara itu di Washington, Kementerian Pertahanan (Pentagon) dan Kemenlu AS mengaku belum dihubungi Filipina mengenai permohonan penarikan pasukan. Saat ini, terdapat 100 penasihat militer AS di selatan Filipina. 

"Kami akan terus berkomunikasi dengan rekan Filipina kami untuk merespons pendekatan apapun yang diadopsi pemerintahan baru," ujar juru bicara Pentagon Gary Ross, seperti dikutip AFP, Senin (12/9/2016). 

Jubir Kemenlu John Kirby juga mengaku belum mendapat permohonan resmi dari pemerintah Filipina. 

Bukan Fan AS


Presiden Rodrigo Duterte (kanan) dan Menlu Perfecto Yasay. (Foto: Reuters)

Yasay, yang diwawancara kantor berita ABS-CBN, mengonfirmasi AS dan Filipina belum secara resmi mendiskusikan permintaan Duterte. 

Duterte, 71, mengaku "bukan fan" AS. Duterte sempat memperlihatkan serangkaian foto prajurit AS yang membunuh banyak Muslim saat Amerika menguasai koloni barunya pada awal 1900-an. 

Kehadiran pasukan AS di selatan Filipina disinggung Duterte karena dirinya kesal terus dikritik mengenai kebijakannya dalam memerangi narkotika dan obat-obatan terlarang. Sejak Duterte menjadi presiden, sekitar 3.000 orang tewas di bawah kebijakan kontroversialnya dalam menghabisi kejahatan narkoba. 

Obama mengkritik Duterte dengan mengatakan perang melawan kejahatan harus dilakukan dalam "jalan yang benar" tanpa mengabaikan hak asasi manusia. 


(WIL)