Persahabatan Erat Fidel Castro dan Bung Karno

Arpan Rahman    •    Sabtu, 26 Nov 2016 16:49 WIB
fidel castro wafat
Persahabatan Erat Fidel Castro dan Bung Karno
Fidel Castro bersahabat dengan Presiden Soekarno (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Havana: Fidel Castro  dikenal sebagai tokoh revolusi Kuba yang paling berpengaruh. Pemikiran-pemikiran Castro di Kuba masih dipegang teguh hingga saat ini.

"Revolusi adalah perjuangan untuk mati antara masa depan dan masa lalu," kata Fidel Castro. Selain cerutu, tokoh revolusi Kuba ini identik dengan topi. Ia muncul di muka publik hampir selalu dengan topinya. 
 
Soekarno satu-satunya presiden yang pernah bertukar topi dengan Fidel Castro. Presiden Soekarno memakai topi milik Castro dan Castro pun sumringah ketika mengenakan kopiah khas Indonesia. Kedua pemimpin itu tertawa lebar saat saling bercanda. Castro dan Soekarno diketahui bersahabat dekat selama hidup mereka.
 
 
Bahkan ketika Soekarno berkunjung ke Kuba pada 13 Mei 1960, Castro disebut-sebut menerima pelajaran mengenai pembentukan bangsa yang mandiri. Ini termasuk pemberdayaan sumber daya untuk kepentingan masyarakat banyak.
 
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyebutkan, Fidel Castro mempunyai hubungan emosional yang dekat dengan Indonesia. "Bangsa kita dekat dengan bangsa Kuba karena Fidel Castro," ucap Surya Paloh, di Jakarta, Sabtu (25/11/2016).
 
Ditambahkan, hubungan Pemerintah Kuba pada era Castro dan Pemerintah Indonesia pada era Soekarno tidak dipungkiri mempunyai hubungan emosional yang dekat.
 
Castro dan Soekarno memang dikatakan sangat dekat sebab keduanya punya pemikiran yang sama revolusioner. Sama-sama ingin memajukan negara, menyejahterakan rakyat, dan ‘membenci’ negara-negara pelaku kapitalis seperti Amerika.
 
Kini, Fidel Alejandro Castro Ruz, anak petani kaya asal Biran, yang lahir pada 13 Augustus 1926, telah wafat. Ia dikenal sebagai pemimpin sayap kiri anti-imperalis sepanjang hayatnya. Yang berkutat dengan pemikiran tentang kesejahteraan umum sejak jadi mahasiswa hukum di University of Havana. 
 
Menjadi pemimpin politik Kuba sejak 1959 hingga 2008, Castro mengubah negaranya menjadi negara komunis pertama di Belahan Barat.
 
Menurut Britannica, Castro menjadi simbol revolusi komunis di Amerika Latin. Dia memegang tampuk Perdana Menteri sampai 1976 dan kemudian mulai menjabat sebagai presiden Dewan Negara dan Dewan Menteri. Dia menyerahkan kekuasaan sementara pada Juli 2006 karena masalah kesehatan dan secara resmi menyerahkan kursi kepresidenan pada Februari 2008.
 
Castro berasal dari kota kecil di tenggara Kuba. Ayahnya, Angel Castro y Argiz, imigran Spanyol, seorang petani tebu yang cukup makmur di sebuah kawasan yang telah lama didominasi oleh perkebunan United Fruit Company milik Amerika Serikat.
 
Ia mulai sekolah berasrama Katolik Roma di Santiago de Cuba dan kemudian SMA Katolik Belen di Havana. Semasa muda, dia membuktikan diri sebagai atlet berbakat. 
 
Pada 1945, ia kuliah di University of Havana, tempat geng-geng kekerasan terorganisir berusaha mencampurkan tujuan romantis, politik, dan karir pribadi. Kesibukan utama Castro di universitas itu berpolitik. Pada 1947, ia bergabung dengan upaya yang gagal bersama orang-orang buangan Dominika dan Kuba untuk menyerang Republik Dominika dan menggulingkan Jenderal Rafael Trujillo. Dia kemudian berpastisipasi dalam kerusuhan perkotaan yang pecah di Bogota, Kolombia, April 1948.
 
Setelah lulus pada 1950, Castro mulai praktik hukum dan menjadi anggota Partai Rakyat Kuba reformis (yang disebut kaum 'ortodoxos'). Ia menjadi kandidat untuk kursi di DPR dari daerah Havana dalam pemilihan yang dijadwalkan Juni 1952. Namun, pada Maret tahun itu, Jenderal Fulgencio Batista, menggulingkan pemerintahan Presiden Carlos Prio Socarras dan membatalkan pemilu.
 
Setelah aturan hukum gagal menyingkirkan diktator baru Batista, Castro mulai menyusun pasukan untuk memberontak pada 1953. Pada 26 Juli 1953, ia memimpin sekitar 160 orang dalam serangan bunuh diri di barak militer Moncada di Santiago de Cuba yang memicu semangat perlawanan rakyat. Sebagian besar pasukannya tewas, dan Castro sendiri tertangkap. 
 
Setelah sidang, di mana ia membela diri secara berapi-api, pemerintah menjatuhi hukuman atas dirinya dengan 15 tahun penjara. Dia dan saudaranya Raul dibebaskan melalui amnesti politik pada 1955, dan keduanya pergi ke Meksiko melanjutkan kampanye mereka terhadap rezim Batista. Di sana, Castro mengumpulkan warga Kuba di pengasingan dalam kelompok revolusioner yang disebut Gerakan 26 Juli.
 
Pada 2 Desember 1956, ekspedisi bersenjata Castro dan 81 orang mendarat di pantai timur Kuba dari kapal Granma. Semuanya tewas dan tertangkap, kecuali Fidel dan Raul Castro, Ernesto "Che" Guevara, dan sembilan orang lain, yang mundur ke Sierra Maestra demi mengobarkan perang gerilya melawan pasukan Batista. 
 
Sejumlah relawan revolusioner di seluruh pulau itu bergabung dengan mereka. Pasukan Castro lalu memenangkan serangkaian pertempuran lantaran demoralisasi dan buruknya kepemimpinan pasukan bersenjata pemerintah Batista. Upaya propaganda Castro terbukti sangat efektif, dan tatkala dukungan politik internal berkurang disusul kekalahan militer, Batista melarikan diri dari negara itu pada 1 Januari 1959. Castro dari 800 gerilyawan telah mengalahkan 30.000 tentara profesional pemerintah Kuba.
 
Sebagai pemimpin revolusi tak terbantahkan, Castro menjadi panglima angkatan bersenjata di pemerintahan sementara Kuba yang baru. Mereka memilih Manuel Urrutia, seorang liberal moderat, sebagai presiden. Pada Februari 1959, Castro menjadi Perdana Menteri sekaligus kepala pemerintahan. Saat Urrutia dipaksa mengundurkan diri pada Juli 1959, Castro pun mengambil kekuasaan politik yang efektif ke dalam tangannya sendiri.
 
Castro berkuasa dengan dukungan paling besar dari penduduk miskin Kuba atas dasar janji-janjinya untuk mengembalikan konstitusi versi 1940, menyelenggarakan pemerintahan yang jujur, mengembalikan kebebasan penuh sipil dan politik, dan melakukan reformasi moderat. 
 
Tapi setelah terbentuk sebagai pemimpin Kuba ia mulai mengejar kebijakan yang lebih radikal: perdagangan swasta Kuba dan industri dinasionalisasi; mereformasi tanah secara kelembagaan; mengambil alih bisnis Amerika dan perusahaan perkebunan. Ia mendekati Uni Soviet dan dimusuhi AS.
 
Castro pernah menulis, "Tidak seorang pun akan hidup di bawah ilusi bahwa rakyat negeri yang bermartabat dan tanpa pamrih ini akan meninggalkan kemuliaan, hak, atau kekayaan spiritual yang telah mereka dapatkan dengan perkembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan." 
 
Pada April lalu, Castro yang renta dan ringkih hampir berusia 90 tahun. Ia berkata kepada Kongres Partai Komunis bahwa ia akan segera meninggal dunia, dan dia memohon anggota partai untuk bekerja memenuhi visi komunis Kuba.  

 


(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA