Studi: Polusi Udara akibat Perubahan Iklim Ancam Ribuan Nyawa

Willy Haryono    •    Selasa, 01 Aug 2017 12:14 WIB
perubahan iklim
Studi: Polusi Udara akibat Perubahan Iklim Ancam Ribuan Nyawa
Kota Paris dilanda kabut asap, Desember 2016. (Foto: Ian Langsdon/EPA)

Metrotvnews.com, North Carolina: Sebuah studi di jurnal Nature Climate Change mengestimasi jika tren saat ini berlanjut, kematian manusia akibat polusi udara sebagai imbas dari perubahan iklim akan mencapai angka 60 ribu pada 2030. 

Angka tersebut akan melompat ke 260 ribu di tahun 2100. 

Riset sebelumnya menunjukkan sekitar 5,5 juta orang di dunia meninggal dunia secara prematur akibat polusi udara. Studi ini juga menunjukkan tingkat bunuh diri petani di India meningkat seiring menghangatnya iklim Bumi. 

Para peneliti menyebut, ini merupakan studi paling komprehensif terkait bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi kesehatan manusia via polusi udara. Riset ini menggabungkan hasil studi dari berbagai grup perubahan iklim di Amerika Serikat, Britania Raya, Prancis, Jepang dan Selandia Baru. 

"Temperatur yang lebih panas dapat mempercepat tingkat reaksi polutan udara yang terbentuk di atmosfer," kata pemimpin studi Jason West, seorang associate profesor dari Universitas North Carolina kepada CBS News, Senin 31 Juli 2017. 

"Polusi udara akan terkonsentrasi di tempat-tempat yang relatif kering akibat perubahan iklim," lanjut dia. 

Diperkirakan perubahan iklim akan meningkatkan kematian terkait polusi udara di semua wilayah, kecuali Afrika. 

"Polusi udara memengaruhi berbagai hal seperti serangan jantung, stroke, penyakit cardiopulmonary dan kanker paru-paru," ujar West. "Polusi udara memiliki dampak besar terhadap kesehatan," sambungnya. 

Sebagian besar ilmuwan dunia sepakat upaya kolektif untuk mengurangi dampak perubahan iklim akan membuat perbedaan besar di masa depan. Komitmen AS terhadap upaya semacam itu dipertanyakan, setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian iklim Paris pada Juni 2017. 

Perjanjian iklim Paris, yang ditandatangani lebih dari 190 negara, bertujuan mengurangi emisis karbon yang disebut para ilmuwan berpotensi memperburuk pemanasan global. 

"Mengurangi emisi gas rumah kaca memiliki keuntungan besar dalam mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesehatan manusia," sebut West. 

Selain polusi udara, perubahan iklim juga memiliki dampak terhadap stres seseorang di tengah temperatur panas, meluasnya penyakit menular dan berkurangnya akses terhadap air bersih serta makanan.


(WIL)