Venezuela Blokade Pengiriman Bantuan Kemanusiaan

Willy Haryono    •    Rabu, 06 Feb 2019 11:35 WIB
konflik venezuelavenezuela
Venezuela Blokade Pengiriman Bantuan Kemanusiaan
Militer Venezuela memblokade jembatan Tienditas dengan menggunakan truk tanker dan kontainer, Selasa 5 Februari 2019. (Foto: AFP/Handout/Colombian Migration Office)

Caracas: Militer Venezuela memblokade sebuah jembatan yang berbatasan dengan Kolombia menjelang datangnya bantuan kemanusiaan dari komunitas global, Selasa 5 Februari 2019. 

Bantuan kemanusiaan ini telah diupayakan dan dikoordinasikan Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela yang mendeklarasikan diri sebagai presiden interim.

Guaido bersama Majelis Nasional mengingatkan militer Venezuela untuk tidak melewati "batas" dengan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Guaido mengklaim sekitar 300 ribu warga Venezuela terancam meninggal dunia jika bantuan kemanusiaan tidak segera masuk.

"Ada batasan yang tidak boleh dilewati dalam hal-hal tertentu. Obat-obatan, makanan dan pasokan medis adalah contoh batasan tersebut," ucap Miguel Pizarro, seorang anggota parlemen, dalam pesan yang ditujukan kepada militer Venezuela, seperti disitir dari laman AFP.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro selama ini menilai masuknya bantuan kemanusiaan berpotensi memicu invasi dari negara lain, terutama Amerika Serikat. "Tidak ada apapun yang boleh masuk," tegas Maduro.

Dalam memblokade bantuan kemanusiaan, militer Venezuela mengerahkan truk tanker dan kontainer besar di jembatan Tienditas. Jembatan ini menghubungkan Venezuela dengan Cucuta di Kolombia menuju Urena, Venezuela.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut intervensi militer Washington ke Venezuela masih menjadi "salah satu opsi." AS adalah negara pertama yang mengakui Guaido sebagai pemimpin interim.

Sejumlah negara besar di Eropa mengikuti langkah AS dan turut mengakui Guaido. Venezuela mengaku akan merevisi hubungan bilateral dengan negara-negara tersebut.

Negara anggota Uni Eropa yang mengakui Guaido adalah Jerman, Spanyol, Inggris, Prancis, Austria, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Belanda, Polandia, Portugal dan Swedia.

Berbicara dalam sebuah wawancara akhir pekan kemarin, Maduro menyinggung mengenai kemungkinan adanya perang sipil di Venezuela. Menurutnya, ada tidaknya perang sipil tergantung dari level "kegilaan" Negeri Paman Sam.

Sementara Guaido balas merespons, dan menilai isu perang sipil hanyalah ide buatan Maduro.

Baca: Maduro Singgung Kemungkinan Perang Sipil di Venezuela



(WIL)