Warga Pribumi AS Menentang Tembok Perbatasan Trump

Arpan Rahman    •    Senin, 28 Jan 2019 17:00 WIB
amerika serikatdonald trump
Warga Pribumi AS Menentang Tembok Perbatasan Trump
Mobil patroli penjaga perbatasan AS berada di El Paso, Texas. (Foto: AFP)

Texas: Warga pribumi Amerika bergabung dengan berbagai grup advokasi dalam berunjuk rasa menentang rencana Presiden Donald Trump membangun tembok di sepanjang perbatasan Meksiko. Tembok perbatasan adalah salah satu janji semasa kampanye Trump.

Ratusan demonstran bergerak bersama menentang Trump di El Paso, Texas. Sejumlah pribumi ikut serta dalam gerakan ini dengan cara menari dan memukul-mukul drum di tengah kerumunan massa.

"Kami akan terus berjuang di jalanan. Kami akan terus melakukan ini jika Trump masih terus memisahkan keluarga kami dan berkukuh membangun tembok," kata Fernando Garcia, direktur dari organisasi Border Network for Human Rights, kepada saluran televisi KTSM-TV.

Seperti dilansir dari laman UPI, Senin 28 Januari 2018, para pengunjuk rasa mengaku tidak akan berhenti beraksi meski Trump sudah mengakhiri shutdown terkait pembangunan tembok. Shutdown adalah penutupan sebagian institusi pemerintah AS.

Shutdown diakhiri sementara untuk tiga pekan ke depan per tanggal 25 Januari. Penutupan sebagian pemerintah kali ini -- berlangsung selama lebih kurang 35 hari -- adalah yang terpanjang dalam sejarah AS.

Trump menegaskan jika tidak ada perjanjian lanjutan pada tanggal 15 Februari, maka dirinya akan kembali menutup pemerintah. Ia juga menyinggung mengenai kemungkinan mendeklarasikan status darurat nasional.

Baca: Kekalahan Trump dalam Shutdown Dominasi Media AS

Unjuk rasa terbaru menentang Trump dimulai di area San Jacinto Plaza. Para pedemo berhenti sejenak di Jembatan Paso Del Norte, atau juga dikenal sebagai Jembatan Santa Fe, yang menghubungkan El Paso ke kota Juarez di Meksiko. 

Demonstrasi berakhir di Chihuahuita, lokasi di mana pemerintah AS melakukan perbaikan di sejumlah bagian pagar perbatasan beberapa bulan lalu.


(WIL)