Donald Trump Akan Umumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 02 Dec 2017 07:47 WIB
palestina israelpemerintahan as
Donald Trump Akan Umumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel
Presiden AS Donald Trump akan umumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel (Foto: AFP).

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan akan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Pengumuman akan disampaikan pada pidato Rabu 6 Desember 2017 mendatang.
 
Trump bukanlah Presiden AS pertama yang menjanjikan pengakuan tersebut. Namun Trump akan mempertahankan klaim dari pihak Israel yang yakin bahwa mereka berhak atas keseluruhan wilayah Yerusalem.
 
Apabila dukungan Trump diutarkan, dapat dipastikan bahwa proses perdamaian di Timur Tengah akan hancur. Aneksasi Israel di Yerusalem Timur pada 1967, masih dianggap ilegal oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
Adapun pengumuman dari Trump mengenai Yerusalem ini akan dilakukan pada Rabu mendatang. Namun menurut sumber pejabat pemerintahan AS, Trump tidak akan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. 
 
Palestina menegaskan bahwa mereka memiliki hak atas bagian wilayah Yerusalem, yang memiliki beberapa situs yang dianggap suci oleh umat Muslim. Perjuangan Palestina juga memiliki implikasi di seluruh Timur Tengah.
 
Menyusul rencana pengumuman Trump ini, Juru Bicara Presiden Palestina Mahmud Abbas yakni, Nabil Abu Rudeina memperingatkan bahwa inti dari konflik adalah pengakuan Yerusalem Timur sebagi ibu kota dari negara Palestina merdeka.
 
"Yerusalem Timur dengan berbagai situs suci di dalamnya, adalah awal dan akhir dari solusi dan proyeksi yang bisa menyelamatkan kawasan ini dari kehancuran," tutur Rudeina, seperti dikutip The Washington Post, Sabtu 2 Desember 2017.
 
Sementara anggota Dewan Legislatif Palestina Qais Abdul Karim melontarkan pendapatnya mengenai dampak jika AS memindahkan kedubes dari Tel Aviv.
 
"AS akan kehilangan statusnya sebagai juru damai dan menegaskan dirinya sebagai sekutu Israel. Ini akan menjadi bencana besar dan mungkin menjadi akhir dari upaya AS memulai proses perdamaian," pungkas Karim.
 
Sikap Pemerintahan Trump memang berbeda dengan Barack Obama saat menjadi Presiden AS. Obama memiliki hubungan tidak bersahabat dengan Perdana Menteri Israel Benjami Netanyahu.
 
Hal ini disebabkan sikap Obama yang menentang rencana pembangunan pemukiman Israel di wilayah Palestina. Trump pun bersumpah untuk memperbaiki hubungan tersebut.



(FJR)