Shutdown Buat AS Rawan Digempur Serangan Siber

Arpan Rahman    •    Sabtu, 19 Jan 2019 13:01 WIB
amerika serikatdonald trump
Shutdown Buat AS Rawan Digempur Serangan Siber
Gedung Putih di Washington, AS. (Foto: AFP)

Washington: Sejumlah pakar khawatir shutdown atau penutupan sebagian institusi pemerintah dapat membuat Amerika Serikat rawan digempur serangan siber. Hal ini dikarenakan banyak pegawai keamanan AS tidak bekerja selama shutdown.

Sekitar 800 ribu pegawai federal AS dipaksa cuti atau bekerja tanpa dibayar akibat shutdown. Ribuan dari mereka adalah para pegawai di dua agensi pemerintah AS yang mengawasi keamanan siber.

Lembaga Kajian Teknologi Massachusetts Institute of Technology menyebut 45 persen total karyawan di Badan Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur (CISA) dari Departemen Keamanan Dalam Negeri dan 85 persen staf di National Institute of Standards and Technology sudah tidak bekerja selama hampir satu bulan.

Juru bicara CISA mengatakan kepada laman Business Insider bahwa shutdown telah membuat "sistem perlindungan infrastruktur dan keamanan siber berhenti."

Sejumlah karyawan yang dinilai krusial masih diharuskan bekerja. Namun berkurangnya jumlah staf secara signifikan membuat banyak departemen tidak beroperasi maksimal.

Baca: Shutdown AS Berlanjut, Gedung Putih Nyaris Kosong

"Aktivitas pengawasan mungkin tidak berjalan 100 persen seperti biasa. Ini artinya, persentase mengenai kemungkinan adanya aktivitas berbahaya yang tidak terawasi meningkat," ujar Bryson Bort, CEO dari perusahaan pertahanan siber SCYTHE, kepada kantor berita CBS News, seperti dilansir dari laman UPI, Jumat 18 Januari 2019.

Mike O'Malley, Wakil Presiden dari perusahaan pertahanan Radware, menilai shutdown di AS dapat diibaratkan "menggelar karpet merah kepada siapapun yang hendak berbuat jahat."

"Seperti yang sudah kita ketahui dari aktivitas para peretas, terutama mereka yang disponsori negara, mereka biasanya memiliki kesabaran tinggi dan baru akan menyerang pada momen yang tepat," sebut O'Malley.

Bort menilai ada empat negara yang paling mungkin memanfaatkan shutdown ini, yakni Tiongkok, Iran, Rusia dan Korea Utara.

Shutdown terbaru di AS ini dipicu masalah biaya pembangunan tembok perbatasan. Dalam sejarah AS, shutdown terlama terjadi di bawah pemerintahan Presiden Bill Clinton pada periode 1995-1996. Kala itu, shutdown berlangsung 21 hari.


(WIL)