Komando Strategis AS Berasumsi Korut Tes Bom Hidrogen

Arpan Rahman    •    Jumat, 15 Sep 2017 10:28 WIB
rudal korut
Komando Strategis AS Berasumsi Korut Tes Bom Hidrogen
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Omaha: Komandan pasukan Komando Strategis Amerika Serikat (AS) mengatakan, pada Kamis 14 September, asumsinya bahwa uji coba nuklir 3 September oleh Korea Utara (Korut) adalah sebuah bom hidrogen. 
 
Ia menunjukkan kekhawatiran AS meningkat tentang Korut yang telah maju ke tahap senjata nuklir baru. Bahkan baru saja Korut meluncurkan rudal balistik lagi di atas Jepang ke Samudera Pasifik.
 
 
Marsekal John E. Hyten, panglima Komando Strategis AS, mengatakan kepada wartawan bahwa sementara itu dia tidak dalam posisi untuk mengkonfirmasi. Dia mengasumsikan dari ukuran ledakan bawah tanah dan faktor lainnya bahwa tes itu adalah bom hidrogen -- yang melompat di luar fisi, atau atom, bom Korut yang telah diuji sebelumnya.
 
Beberapa saat sesudah Hyten berbicara di markas besarnya di dekat Omaha, kabar menyebar: Korut telah meluncurkan rudal balistik jarak menengah di atas langit Jepang. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis, yang bersama Hyten di markas Komando Strategis pada saat peluncuran tersebut, mengatakan bahwa tindakan tersebut sembrono.
 
"Itu dilecut ke angkasa Jepang dan menempatkan jutaan orang Jepang di bawahnya," katanya kepada sekelompok kecil wartawan, seperti dilansir AFP, Jumat 15 September. "Bom itu mendarat di Lautan Pasifik."
 
Ketika ditanya tentang kemungkinan respons militer Amerika, Mattis berkata, "Saya tidak mau membicarakannya lagi."
 
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan, "Provokasi terus-menerus ini hanya memperdalam isolasi diplomatik dan ekonomi Korut."
 
 
Tillerson kembali dari London, di mana dia bertemu dengan perwakilan Inggris dan Prancis, pada Kamis 14 September, demi membahas cara-cara meningkatkan tekanan pada pemerintah otoriter Kim Jong Un.
 
Tillerson minta China dan Rusia "menunjukkan intoleransi mereka terhadap peluncuran rudal sembrono ini dengan melakukan tindakan langsung mereka sendiri."
 
Tak lama setelah tes 3 September, Korut mengklaim sudah meledakkan bom hidrogen. Sementara pejabat AS tidak menepisnya, mereka juga tidak membenarkannya. Pejabat pemerintah mengindikasikan mereka tidak hirau atas klaim Korut. Hyten melangkah lebih jauh, mengatakan dari karakteristik tes tersebut membuatnya berpikir itu adalah bom-H.
 
Hyten tidak mau membahas ukuran ledakan yang tepat dari tes 3 September. Namun Mattis mengatakan, pada Rabu, bahwa bom itu melebihi 100 kiloton -- jauh lebih besar daripada lima tes nuklir Korut sebelumnya.
 
"Ketika saya melihat ukurannya, saya sebagai perwira militer saya menganggap itu bom hidrogen," kata Hyten. Sebagai kepala Komando Strategis, dia akan bertanggung jawab atas semua elemen tenaga nuklir AS jika terjadi perang nuklir.
 
"Saya harus (mengasumsikan ini)," tambahnya, "Saya harus membuat asumsi itu. Apa yang saya lihat setara dengan bom hidrogen. Saya melihat uji coba tersebut. Saya melihat indikasi yang muncul dari aktivitas itu. Saya melihat ukurannya, saya melihat laporannya, dan oleh karena itu saya menganggapnya sebagai bom hidrogen."
 
Ketika ditanya apakah penting mengawasi Korut yang telah maju menguji bom hidrogen, Hyten berkata, "Ya. Perubahan dari bom atom asli menjadi bom hidrogen untuk AS" pada 1940-an mengubah hubungan strategis Amerika dengan Uni Soviet karena "kehancuran dan kerusakan yang dapat Anda ciptakan dengan senjata seukuran itu." 
 
Ditekan lebih lanjut, Hyten mengatakan bahwa dia tidak sepenuhnya yakin bahwa itu adalah bom hidrogen. "Saya hanya mengatakan ukuran senjata menunjukkan bahwa jelas ada ledakan sekunder," katanya.
 
Hyten mengatakan yakin hanya masalah waktu sebelum Korut memiliki rudal bersenjata nuklir yang dapat diandalkan mampu menyerang AS. Mereka mungkin masih harus melakukan lebih banyak percobaan.
 
"Mereka belum menggabungkan semuanya," katanya, mengacu pada kemampuan buat membangun rudal jarak jauh dengan hulu ledak nuklir yang dapat bertahan dalam panas luar biasa yang dihasilkan ketika memasuki kembali atmosfer bumi dalam luncuran menuju target AS. Dia katakan, tidak akan mengejutkan jika Korut dapat melakukannya dalam waktu yang cukup singkat. Dia mengaku bahwa jangkauan senjata itu ke AS membutuhkan waktu "kurang dari beberapa tahun."



(FJR)