Seorang Nenek Tewas Tertembak di Antrean Referendum Venezuela

Willy Haryono    •    Senin, 17 Jul 2017 12:19 WIB
konflik venezuelavenezuela
Seorang Nenek Tewas Tertembak di Antrean Referendum Venezuela
Gelombang unjuk rasa melanda Venezuela sejak April 2017. (Foto: EPA)

Metrotvnews.com, Caracas: Seorang perawat berusia 61 tahun tertembak saat mengikuti pemungutan suara referendum di ibu kota Venezuela, Caracas. 

Dengan mengendarai sepeda motor, seorang pria menembaki barisan antrean yang menjadi tempat pemungutan suara, yang berujung pada tewasnya wanita tersebut.

Seperti dikutip BBC, Senin 17 Juli 2017, tiga orang juga terluka dalam penembakan. 

Pihak oposisi menuduh sebuah kelompok “paramiliter” berada di balik penembakan. Video dari tempat kejadian menunjukkan orang-orang berlarian menghindari aksi tersebut, banyak diantaranya yang bersembunyi di gereja. 

Venezuela berada dalam krisis politik, dan lebih dari 100 orang tewas dalam demonstrasi berujung bentrok sejak April lalu. 

Juru bicara pihak oposisi Carlos Ocariz menyatakan “Kami  turut berduka cita” atas penembakan tersebut.

Wanita yang diketahui bernama Xiomara Soledad Scott itu meninggal tak lama usai tiba di rumah sakit. Sejumlah jaksa menyatakan akan segera menginvestigasi kasus itu.

Secara terpisah, wartawan bernama Luis Olavarrieta diculik, dirampok dan dipukuli sekelompok orang di Caracas. Dia berhasil melarikan diri dan diketahui kini tengah mendapatkan perawatan medis. 

Konstitusi Baru

Sebuah pemungutan suara resmi akan berlangsung pada 30 Juli mendatang untuk memilih majelis baru, yang diharapkan dapat memiliki wewenang untuk menyusun kembali konstitusi negara.

Sejumlah kritikus menilai majelis tersebut menandai kediktatoran pemerintah Venezuela. 

Maduro berpendapat dewan konstituen adalah satu-satunya cara menyelamatkan Venezuela keluar dari krisis ekonomi dan politik saat ini.

Dia juga menambahkan konstitusi baru akan "menetralisasi" oposisi dan mengalahkan "komplotan kudeta" sehingga menciptakan perdamaian di Venezuela.

Pemimpin oposisi khawatir proses pembentukan majelis baru dan penyusunan ulang konstitusi akan menunda pemilihan regional tahun ini dan pilpres tahun depan.

Mereka juga khawatir jika Dewan konstituen akan semakin memperlemah Majelis Nasional, badan legislatif yang dikontrol oposisi Venezuela. (Ratu Tiara Sari)

 


(WIL)