Maduro Tuduh AS 'Palsukan' Krisis untuk Memulai Perang

Willy Haryono    •    Selasa, 26 Feb 2019 11:47 WIB
konflik venezuelavenezuela
Maduro Tuduh AS 'Palsukan' Krisis untuk Memulai Perang
Presiden Nicolas Maduro melambaikan bendera Venezuela dalam sebuah acara di Caracas, 23 Februari 2019. (Foto: AFP/YURI CORTEZ)

Caracas: Presiden Nicolas Maduro menuduh Amerika Serikat sengaja "memalsukan" krisis di Venezuela sebagai usaha untuk memulai perang di Amerika Selatan. Pernyataan disampaikan dalam wawancara dengan kantor berita ABC News di Caracas, Senin 25 Februari 2019.

"Semua yang telah dilakukan Pemerintah AS berakhir gagal," ucap Maduro.

"Mereka mencoba memalsukan sebuah krisis demi membenarkan intervensi politik dan militer di Venezuela, yang tujuannya adalah memulai perang di Amerika Selatan," lanjut dia.

Sebelumnya di hari yang sama, Wakil Presiden AS Mike Pence mengumumkan dana bantuan USD56 juta atau setara Rp783 miliar kepada Venezuela dan juga sanksi terhadap empat gubernur yang dekat dengan Maduro. Pengumuman tersebut disampaikan Pence dalam acara organisasi Lima Group di Bogota, Kolombia.

Dalam acara di Bogota, Lima Group mengecam keras adanya kematian empat warga dalam bentrokan di perbatasan Venezuela. Bentrokan itu terjadi saat para relawan berusaha menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Venezuela, namun dihalangi pasukan keamanan Maduro.

Tokoh oposisi Venezuela Juan Guaido berada di balik pengumpulan bantuan kemanusiaan tersebut. Menurutnya, ada sekitar 300 ribu warga Venezuela yang terancam meninggal dunia jika bantuan tidak segera disalurkan. Namun Maduro menolaknya, karena menganggap bantuan kemanusiaan hanya tipuan AS untuk menginvasi Venezuela.

Guaido telah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pengganti Maduro bulan lalu. Sekitar 50 negara, termasuk AS, mengakui deklarasi tersebut.

Merespons pertemuan di Bogota, Maduro menilainya sebagai "percobaan untuk mendirikan pemerintahan paralel di Venezuela." "AS hanya menginginkan minyak Venezuela, dan mereka bersedia berperang untuk minyak," tegas Maduro.

"Pemerintahan ekstremis Ku Klux Klan di bawah (Presiden AS) Donald Trump ingin perang demi minyak dan hal-hal lainnya lagi," tambahnya.

Meski menyerang AS, Maduro menegaskan dirinya masih membuka diri untuk "berdialog langsung" dengan pemerintahan Trump. Saat ditanya apakah Guaido akan diizinkan kembali kembali ke Venezuela -- saat ini sedang berada di Bogota -- Maduro menjawab rivalnya itu adalah sosok yang "tidak mematuhi hukum."

Baca: Brasil Larang AS Gunakan Wilayahnya untuk Invasi Venezuela


(WIL)


Pilpres AS, Sanders Mulai Kampanye di Brooklyn

Pilpres AS, Sanders Mulai Kampanye di Brooklyn

2 weeks Ago

Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Bernie Sanders memulai kampanye di tempat…

BERITA LAINNYA