Protes di Venezuela Menyebar, Dua Korban Tewas dalam Bentrokan

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Apr 2017 17:25 WIB
konflik venezuela
Protes di Venezuela Menyebar, Dua Korban Tewas dalam Bentrokan
Pengunjuk rasa anti pemerintah Venezuela lemparkan batu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Caracas: Warga di kawasan miskin Venezuela memblokir jalan-jalan dan menyalakan api dalam protes yang tersebar di seantero negeri, pada Selasa 11 April malam. Dua orang tewas selama kerusuhan merebak di tengah krisis ekonomi yang melumpuhkan negara.
 
Pemblokiran dan nyala api menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi Presiden sayap kiri Nicolas Maduro sebab warga di bukit pemukiman kumuh Caracas secara tradisional pro-pemerintah dan penduduk kawasan miskin di sekitarnya juga sudah turun ke jalanan, seperti dilaporkan para saksi dan anggota parlemen oposisi.
 
Barisan seteru Maduro bangkit melawan dalam tayangan dari kerumunan massa di negara bagian Bolivar sebelah tenggara yang mengamuk. Mereka melemparkan segala benda ke arah sang pemimpin yang dilindungi ketat selama unjuk rasa, Selasa, sebelum televisi pemerintah menghentikan siaran.
 
Di negara bagian barat Lara, dua orang, berusia 13 dan 36, tewas dalam kerusuhan, pada Selasa, kata kejaksaan dalam sebuah pernyataan. Gubernur Lara berhaluan oposisi Henri Falcon menyalahkan kekerasan pada 'para penyusup' dan 'berandal' yang berkeliaran dengan sepeda motor setelah energi massa reda.
 
"Mereka beredar ke sekitarnya dan menghasut orang-orang yang memprotes," kata Falcon, mantan anggota partai berkuasa, mendesak negosiasi untuk mengakhiri krisis politik Venezuela, seperti dikutip Globe and Mail dari laporan Reuters, Kamis 13 April 2017.
 
Pihak oposisi mengatakan, Maduro -- mantan supir bus dan pemimpin serikat yang menjabat empat tahun lalu, telah berubah menjadi diktator setelah keputusan Mahkamah Agung pada akhir Maret mencaplok fungsi kongres pimpinan oposisi.
 
Pengadilan lekas menghapus bagian yang paling kontroversial dari putusannya, tapi langkah itu meletupkan gairah baru ke dalam gerakan oposisi yang sempat terpecah-belah.
 
Dua pemuda sudah tewas dalam protes sepekan terakhir, menurut pihak berwajib. Banyak yang berani mau melanjutkan kerusuhan di negara yang penuh kejahatan dan mencatat rekor tingkat pembunuhan sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.
 
Saksi mata mengatakan, warga dari sejumlah pemukiman kelas pekerja Caracas memblokir jalan-jalan dengan sampah atau membakar puing-puing, pada Selasa malam, meluapkan huru-hara jalanan dan bentrok dengan pasukan keamanan. Ibu kota tampak tenang, pada Rabu 12 April, meskipun beberapa ruas jalan hangus dan penuh dengan pecahan kaca.
 
Para pejabat pemerintah tidak memberi tanggapan resmi atas aksi, dan Kementerian Informasi tidak menanggapi permintaan komentar melalui email.
 
Maduro menyebut bahwa di bawah kesantunan paham suka damai, oposisi sayap kanan yang didukung Amerika Serikat (AS) memantik protes kekerasan dalam upaya menggulingkan pemerintah dan mendapat kekuasaan atas kekayaan minyak Venezuela.
 
Pada Rabu malam, ia katakan insiden kemarahan sehari sebelumnya di kota San Felix adalah sebuah upaya oposisi untuk 'menyergap' dirinya, namun telah digagalkan oleh barisan loyalisnya.
 
"Mereka telah menyiapkan penyergapan dan orang-orang tergoda dengan itu," katanya. 
 
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat San Felix untuk ekspresi mereka yang bersemangat, gairah, penuh cinta, dan dukungan."
 
'Maduro diktator'
 
Kalangan lawan Maduro berseru menuntut pemerintah menggelar pemilu negara bagian yang tertunda. 
 
Di kala sejumlah jajak pendapat menunjukkan ajang itu tidak akan berjalan baik bagi kaum Sosialis yang berkuasa. Mereka juga menghendaki pemilihan presiden lebih awal sesudah pihak berwenang membatalkan seruan referendum terhadap Maduro, tahun lalu.
 
Larangan atas pemimpin oposisi Henrique Capriles memegang jabatan selama 15 tahun menuai kritik luas karena ia dipandang sebagai pilihan presiden terbaik dari kubu oposisi.
 
Tapi krisis ekonomi yang berkepanjangan memaksa Venezuela memiliki masyarakat yang memang biasa marah.
 
Venezuela telah menderita kekurangan pangan dan obat-obatan selama berbulan-bulan, menyebabkan banyak orang lapar atau sakit tak terobati. Barisan ratusan warga terbentuk di depan sejumlah toko-serba-ada saat orang-orang berdesak-desakan selama berjam-jam di bawah terik matahari berharap beras berharga murah atau tepung terigu akan dikirimkan.
 
Krisis paling memukul kaum miskin, yang sejak lama menjadi basis dukungan Maduro dan pendahulunya Hugo Chavez.
 
Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka juga telah terdorong oleh kecaman kuat dari negara-negara Amerika dan Eropa dalam dua pekan terakhir.
 
"Kami tidak bisa menerima bahwa rezim bersedia mengorbankan kehidupan rakyat Venezuela untuk tetap berkuasa," kata Luis Almagro, kepala Organisasi Negara Amerika (OAS), dalam sebuah video yang diposting, pada Rabu, mendesak pemilu.
 
Putaran aksi protes lain direncanakan, Kamis, di dalam lebih dari 300 kota Venezuela. Para pemimpin oposisi menyerukan untuk bergerak dalam “induk dari segala pawai” pada 19 April.
 
Penangkapan, Penjarahan
 
Di tengah apa yang dikatakan koalisi oposisi sebagai tindakan keras atas perbedaan pendapat, sebanyak 71 orang ditangkap, pada Selasa, menurut kelompok hak asasi Penal Forum.
 
Secara total, 364 orang ditangkap antara 4-12 April selama protes yang paling berlarut-larut sejak 2014. Dan 183 orang masih mendekam di balik jeruji besi, kelompok itu menambahkan.
 
Sekelompok pemuda dan remaja ditangkap karena melemparkan 'benda-benda tajam' ke arah kendaraan Maduro, pada Selasa malam, menurut laporan divisi Garda Nasional lokal yang dilihat Reuters. Dua sumber mengatakan kepada Reuters, para pengunjuk rasa melemparkan batu-batu.
 
Media lokal melaporkan penjarahan sepanjang malam dalam kamar tidur masyarakat kelas pekerja di Guarenas di luar Caracas, serta di beberapa bagian ibu kota.
 
Para pejabat negara telah mengunggah tweet bergambar dan video demonstran merusak fasilitas umum dan melemparkan batu pada polisi.
 
Meskipun ketegangan makin tajam, banyak pihak oposisi khawatir protes tambah panjang tidak akan memicu pemilu yang adil digelar lebih awal, melainkan meningkatkan bentrokan di negara yang sudah bergolak.
 
Protes anti-pemerintah besar-besaran pada 2014 akhirnya rontok, lantaran oposisi pada saat itu tidak memiliki tuntutan yang jelas, kalangan miskin sebagian besar absen, dan ekonomi dalam kondisi yang lebih baik.



(FJR)