Satu Rasa Masyarakat Adat Hadapi Isu Iklim Global

Ferdi Setiawan    •    Rabu, 05 Sep 2018 18:55 WIB
masyarakat adatperubahan iklim
Satu Rasa Masyarakat Adat Hadapi Isu Iklim Global
Masyarakat Adat Dunia berkumpul di California, Amerika Serikat terkait isu perubahan iklim (Foto: Ferdi Setiawan).

California: Berada di California, mungkin yang terbayang di benak kebanyakan orang adalah peristiwa kebakaran hutan yang selalu terjadi di hampir setiap musim panas.
 
Bahkan sejak Agustus hingga kini (September 2018) peristiwa kebakaran Hutan dan Ancaman meluasnya dampak Kebakaran Hutan, membuat pemerintah Daerah setempat harus mengevakuasi belasan ribu warga asli California bagian Utara akibat ribuan rumah dan Hunian mereka yang Terancam.
 
Isu Perubahan iklim dan Pemanasan Global yang sering dikampanyekan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pecinta Lingkungan seolah hanya menjadi angin lalu seiring dengan tetap terjadinya kebakaran hutan di sejumlah negara, tak terkecuali di Ujung Negeri Paman Sam, California.
 
Namun, "Secercah Asa dan Optimisme akan Penyelamatan Hutan melalui Kearifan Lokal" muncul dari Masyarakat Adat Dunia yang saat ini (mulai 1 hingga 7 September 2018 ) tengah berkumpul di Yurok, California menjelang Global Climate Action Summit pada 12-14 September 2018 mendatang.
 
Sekurangnya 45 pemimpin Masyarakat Adat dari 20 Komunitas dan 13 Negara berkumpul di Perkemahan Masyarakat Adat Yurok, untuk bertukar pikiran dan pengetahuan dengan leluhur mereka atau tetua adat dalam rangka perlindungan hutan dan untuk mitigasi perubahan iklim yang dalam dekade terakhir sangat mengkhawatirkan.
 
Pemilihan lokasi Perkemahan di Yurok Sendiri,bukan tanpa alasan. Masyarakat Adat Yurok dikenal sebagai satu-satunya komunitas yang berhasil mempertahankan Hutan mereka dengan kearifan lokalnya. Bahkan Masyarakat Yurok  bisa mengelola hutan secara mandiri, berkat putusan MA Yurok dalam mempertahankan wilayah Adatnya.
 
Javler Kinney, Penasehat Hukum Dewan Adat Yurok mengaku sangat bangga dengan kehadiran para perwakilan masyarakat adat dari berbagai Belahan Dunia termasuk Indonesia, yang diwakili oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
 
"Kami sambut kehadiran Saudara-saudara kita dengan lagu dan Tarian Khas Adat Yurok. Saudara-saudra dari Indonesia dan dari beberapa negara lain, akan belajar tentang pengalaman kami, dalam melindungi sungai Klamath dan melindungi hutan. Mereka bisa belajar tentang Pengelolaan Sumber Daya dan penanganan hutan di Yurok," ujar Kinney.
 
Sementara itu, Deputi Bidang Kelembagaan, Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya PB AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Mina Susana Setra, menegaskan pertemuan ini sangat penting sebagai sesama Penjaga Hutan.
 
"Ini hal yang sangat penting bagi masyarakat Adat. Selama ini selalu bertemu membahas tentang hal hal serius seperti konflik dan melobi pemerintah dalam merubah kebijakan. Tapi Malam ini, kita duduk bersama saling berbagi budaya masing-masing dan saling berbagi cerita, ini penting untuk merasakan hal yang sama dengan masyarakat adat di belahan dunia lain," tutur Mina.
 
Setelah rampung acara Perkemahan, Perkumpulan Masyarakat Adat dari berbagai Negara tersebut akan menggelar Pawai Kebudayaan pada 8 September di San Fransisco, Amerika Serikat. Sementara, hasil diskusi dan penyamaan visi Masyarakat Adat selama perkemahan di Yurok akan disampaikan dalam Forum 'Global Climate Action Summit' di San Fransisco.


(FJR)


Trump Diminta Gelar Investigasi Kedua Soal Khashoggi
Kematian Jamal Khashoggi

Trump Diminta Gelar Investigasi Kedua Soal Khashoggi

45 minutes Ago

Senat meminta Trump untuk memastikan apakah Pangeran Mohammed terlibat atau tidak dalam kasus…

BERITA LAINNYA