Tillerson Tegaskan Pasukan AS di Suriah untuk Melawan Assad

Arpan Rahman    •    Kamis, 18 Jan 2018 15:46 WIB
amerika serikatkrisis suriahkonflik suriah
Tillerson Tegaskan Pasukan AS di Suriah untuk Melawan Assad
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson memaparkan tugas pasukan AS di Suriah (Foto: AFP).

Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson berkata, pada Rabu 17 Januari 2018, bahwa pasukan AS akan tetap berada di Suriah. Bukan hanya untuk melawan para ekstremis, tapi juga guna melawan kekuatan Presiden Bashar al-Assad dan sekutunya Iran.
 
Berpidato menyinggung strategi AS demi membantu mengakhiri perang saudara tujuh tahun Suriah, Tillerson menekankan bahwa misi militer AS adalah menghancurkan kelompok militan Islamic State (ISIS) dan mencegah kembalinya mereka.
 
Tapi dia juga menjelaskan bahwa pengerahan terbuka ditujukan membantu menciptakan stabilitas yang nyaman bagi orang-orang Suriah. Supaya dapat menggulingkan Assad dari jabatannya dan menepis pengaruh Iran.
 
"Penarikan total personel Amerika saat ini akan mengembalikan Assad melanjutkan perlakuan brutal atas rakyatnya sendiri," kata Tillerson kepada warga di Stanford University.
 
"Pembantai bangsanya sendiri tidak bisa menghasilkan kepercayaan yang dibutuhkan bagi stabilitas jangka panjang," cetusnya.
 
"Suriah yang stabil, bersatu, dan independen pada akhirnya membutuhkan kepemimpinan pasca-Assad agar sukses," bubuhnya, seperti disitat AFP, Kamis 18 Januari 2018.
 
AS telah mengerahkan sekitar 2.000 tentara angkatan darat ke Suriah dan patroli-patroli tempur di sebelah timur negara tersebut. Pasukan itu memburu sisa-sisa kelompok ISIS.
 
Bekerja sama dengan Pasukan Demokrat Suriah (SDF), milisi yang didominasi pejuang Kurdi, yang dipandang Washington sebagai basis bagi pasukan perbatasan berkekuatan 30.000 personel buat mengawal Suriah timur.
 
Rezim Assad di Damaskus mengutuk kekuatan ini sebagai pengkhianat. Sekutu AS di Turki, mewaspadai kehadiran milisi YPG Kurdi dalam jajarannya, sangat curiga terhadap peran mereka.
 
Kendati menolak perubahan rezim dan model pembangunan kembali dari intervensi AS di kawasan Teluk, Tillerson menyebut AS tidak boleh mengulangi 'kesalahannya' dalam meninggalkan Irak.
 
Pasukan AS ditarik mundur dari Irak pada 2011, delapan tahun setelah menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Namun hanya untuk kembali dalam jumlah yang jauh lebih rendah pada 2014 melawan ISIS.
 
"Kami tidak bisa berbuat kesalahan yang sama yang dibuat pada 2011, ketika kemunduran diri dari Irak memungkinkan Al Qaeda di Irak bertahan dan akhirnya berubah menjadi ISIS," pungkasnya.



(FJR)