Ucapan Kasar Trump kepada Imigran Haiti dan Afrika

Fajar Nugraha    •    Jumat, 12 Jan 2018 10:58 WIB
imigran gelap
Ucapan Kasar Trump kepada Imigran Haiti dan Afrika
Presiden AS Donald Trump sebut Haiti dan Afrika 'sampah' (Foto: AFP).

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ucapan kasar terhadap imigran Haiti dan negara-negara Afrika.
 
Ketika melakukan pertemuan dengan anggota senat dan kongres untuk membahas reformasi imigrasi, Trump mendesak dijelaskan mengapa AS harus menerima warga yang berasal dari negara yang disebutnya sebagai 'sampah'.
 
Dalam pertemuan Trump dengan anggota kongres dan para senator di Gedung Putih ini, mereka membahas kesepakatan bipartisan yang membatasi imigran yang membawa keluarganya ke Amerika. Selain itu pertemuan juga membahas pembatasan lotere visa green card untuk melindungi ratusan ribu imigran muda dideportasi.
 
"Untuk apa kita (AS) menerima orang-orang dari negara 'sampah' ini," ujar Trump, menurut pejabat yang mendengar ucapan Presiden AS tersebut, seperti dikutip The Washington Post, Jumat 12 Januari 2018.
 
Kemudian The New York Times juga melaporkan ucapan yang sama, berdasarkan sumber rahasia yang memiliki keterlibatan langsung dalam pertemuan itu.
 
Trump mengarahkan ucapannya itu kepada imigran yang berasal dari negara-negara Afrika dan Haiti. Kemudian mantan pengusaha properti itu menyarankan Amerika Serikat menerima imigran dari negara seperti Norwegia, di mana PM Norwegia baru saja melakukan pertemuan dengannya.
 
Komentar dari Trump itu membuat terkejut mereka yang menghadiri pertemuan. 
 
Pihak Gedung Putih tidak memberikan bantahan atas penggunaan kata kasar dari Trump. Mereka bahkan menyebutkan bahwa Presiden Trump tengah 'berjuang untuk mencapai solusi permanen' yang memperkuat negara, terutama dalam upaya penggunaan sistem imigrasi yang didasarkan atas keturunan.
 
"Beberapa politikus Washington memilih untuk berjuang untuk negara asing, tetapi Presiden Trump akan selalu berjuang untuk rakyat Amerika," tutur Juru Bicara Gedung Putih Raj Shah.
 
"Dia akan tetap menolak langkah yang lemah, sementara dan berbahaya yang bisa mengancam kehidupan warga Amerika," imbuhnya.
 
Beberapa politikus Partai Demokrat menilai ucapan Trump menunjukkan dirinya sebagai anti-imigran. "Kita selalu tahu bahwa Presiden Trump tidak terlalu suka dengan warga yang berasal dari negara tertentu atau dengan warna kulit tertentu," sebut anggota Kongres AS Luis Gutierrez.
 
"Sekarang kami bisa yakini bahwa Presiden seorang yang rasis dan tidak menjungung nilai dari konstitusi negara," tegasnya.
 
Senator dari Partai Republik Lindsey Graham dan senator Demokrat Dick Durbin datang ke Gedung Putih untuk menyampaikan kompromi bipartisan terkait imigran. Tetapi ketika berada di pertemuan, mereka menyadari bahwa berada di satu ruangan dengan tokoh Republik yang sangat anti dengan imigran.
 
Graham dan Durbin memimpin upaya perlindungan terhadap apa yang disebut 'dreamers' atau 'pemimpi'. Dreamers ini datang ke Amerika Serikat secara ilegal saat masih anak-anak. Sebagai gantinya, kesepakatan akan mencakup diakhirinya rantai migrasi dari keluarga 'Dreamer' itu.
 
Kesepakatan juga mencakup pemotongan program lotere visa hingga setengah. Selain itu AS juga akan menerapkan sistem negara yang menjadi prioritas dalam lotere visa itu, bukan menghapus secara keseluruhan seperti yang sudah diajukan oleh beberapa anggota Partai Republik.
 
Presiden Trump dan anggota parlemen terjebak dalam negosiasi ketat mengenai cara melindungi hampir 800 ribu 'dreamers' dari upaya deportasi.



(FJR)