Tiongkok Tahan Muslim Uighur, AS Pertimbangkan Sanksi

Sonya Michaella    •    Rabu, 12 Sep 2018 17:06 WIB
as-tiongkok
Tiongkok Tahan Muslim Uighur, AS Pertimbangkan Sanksi
Muslim Uighur mayoritas tinggal di Provinsi Xinjiang. (Foto: Tom Phillips/Guardian)

Washington: Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan pemberian sanksi kepada Tiongkok terkait berita penahanan minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Menurut laporan yang dikeluarkan Human Rights Watch (HRW), kini ada satu juta Muslim Uighur yang ditahan di Xinjiang dan mendapatkan 'pendidikan politik.'

"Kami sangat terganggu oleh tindakan keras, tak hanya kepada Uighur, tetapi juga Kazakh dan muslim lainnya di Xinjiang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert, dikutip dari Guardian, Rabu 12 September 2018.

"Ada laporan yang dapat dipercaya bahwa jutaan orang telah ditahan di Xinjiang sejak April 2017," lanjut dia.

Pemerintah AS juga mempertimbangkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam pembangunan kamp tahanan dan sistem pengawasan untuk memantau Muslim Uighur.

Baca: HRW Tuding Tiongkok Tahan Jutaan Minoritas Uighur

Namun, Nauert menolak menjelaskan lebih lanjut soal rencana sanksi AS kepada Tiongkok tersebut. 

Muslim Uighur yang mayoritas berasal dari Turki ini ditangkap dan ditahan karena dituduh berhaluan ekstrem, yang salah satu indikasinya adalah pernah mengunjungi satu dari 26 negara yang dianggap sensitif oleh Tiongkok.

Puluhan negara itu adalah negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Indonesia.

HRW juga menyebut mereka dilarang menggunakan sapaan khas umat Islam dan harus belajar bahasa Mandarin, serta menyanyikan lagu-lagu propaganda.

Namun, pemerintah Beijing membantah laporan tersebut. Pemerintah menyangkal bahwa mereka bukan dipenjara, melainkan berada di pusat pelatihan kejuruan, salah satu inisiatif pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mobilitas sosial di Xinjiang.



(WIL)