Tersangka Teror New York Mengaku Terinspirasi ISIS

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Nov 2017 16:49 WIB
amerika serikatpenyerangan
Tersangka Teror New York Mengaku Terinspirasi ISIS
Sayfullo Saipov mengaku terinspirasi ISIS (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, New York: Imigran Uzbekistan pelaku teror di New York, Amerika Serikat (AS), mengaku bertindak atas nama kelompok militan Islamic State (ISIS). Serangannya menjadi yang terburuk di New York dalam 16 tahun. Ia "merasa bangga" atas pembunuhan tersebut, setelah merencanakan sebuah serangan selama setahun, kata para penyelidik, Rabu 1 November.
 
Rincian mengejutkan muncul saat jaksa federal mengajukan tuntutan teror kepada Sayfullo Saipov, yang kemudian muncul ke pengadilan di kursi roda. Dia sudah ditembak di perutnya oleh polisi -- 24 jam setelah menabrak para pejalan kaki dan pengendara sepeda dengan sebuah bus sekolah. 
 
 
Presiden AS Donald Trump berjanji segera melakukan tindakan keras terhadap program visa yang dia katakan mengizinkan pemuda berusia 29 tahun tersebut bermigrasi pada 2010. Ia berkata "akan mempertimbangkan" untuk mengirim tersangka ke pusat penahanan militer di Teluk Guantanamo dan kemudian menyerukan eksekusi.
 
Serangan tersebut menewaskan delapan orang, lima di antara mereka adalah sesama teman masa kecil asal Argentina yang merayakan 30 tahun kelulusan SMA mereka, seorang ibu Belgia berusia 31 tahun, dan dua pria AS, dari New York dan negara bagian tetangga New Jersey.
 
Dari 12 orang terluka, empat lainnya berada dalam kondisi kritis menyusul serangan paling mematikan di ibukota keuangan Amerika sejak pembajakan pesawat Al Qaeda pada 11 September 2001.
 
Saipov pertama kali merencanakan serangan setahun silam, sebelum menetapkan dua bulan yang lalu akan memakai truk buat membunuh sebanyak mungkin orang selama perayaan Halloween, menurut sebuah pengaduan terorisme federal.
 
Jaksa mengumumkan tuduhan, dengan mengatakan bahwa dia telah melucuti hak-hak tersangka yang mengaku terinspirasi propaganda ISIS.
 
"Saipov melakukan serangan ini untuk mendukung ISIS," juru bicara pejabat Jaksa Manhattan Joon Kim mengumumkan, seperti disitat AFP, Kamis 2 November 2017.
 
Saipov muncul di kursi roda di hadapan seorang hakim AS di pengadilan federal Manhattan, tempat tuduhan terhadap dirinya dibacakan secara resmi.
 
Dia tidak diwajibkan untuk mengajukan pembelaan dan kemudian dikirim ke fasilitas penahanan federal, kemungkinan besar di New York, juru bicara kantor Kejaksaan AS mengatakan kepada AFP.
 
Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan bahwa Saipov telah mengalami radikalisasi setelah pindah ke AS. Dia bukan warga negara AS, tapi merupakan penduduk tetap resmi.
 
Trump mengatakan segera "memulai proses penghentian" undian paspor hijau yang populer, karena menurutnya sudah memungkinkan Saipov masuk ke negeri Paman Sam.
 
"Kita harus melakukan apa yang benar untuk melindungi warga negara kita," kata Presiden AS kepada wartawan. "Kita akan segera menyingkirkan program undian ini secepat mungkin." Dia kemudian menulis di Twitter bahwa penyerang "HARUS DIKENAI HUKUM MATI!"
 
Saipov tinggal di Florida sebelum pindah ke Paterson, bekas pusat industri sekitar 30km timur laut New York.
 
Meskipun masih belum jelas apakah Saipov bertindak sendiri, Cuomo secara drastis telah meningkatkan keamanan di bandara, terowongan, dan Penn Station, yang disebutnya sebagai pusat rel tersibuk di belahan bumi.
 
Otoritas AS mengumumkan telah menemukan warga Uzbekistan kedua yang mereka cari dalam penyelidikan mereka -- Mukmanmadzoir Kadirov berusia 32 tahun -- namun tidak memberikan rincian tambahan.
 
Uzbekistan, berpenduduk mayoritas Muslim yang berbatasan dengan Afghanistan dan bekas Uni Soviet, merupakan sebuah negeri yang terkurung daratan yang diliputi kemiskinan, korupsi, dan rezim otoriter yang kejam.
 
Saipov menjadi pria Uzbekistan keempat dalam waktu kurang dari satu tahun yang melakukan serangan mematikan di luar negeri, menyusul serangan di Istanbul, St Petersburg, dan Stockholm.



(FJR)