Tillerson Bela Trump Terkait Isu Kesehatan Mental

Willy Haryono    •    Sabtu, 06 Jan 2018 14:42 WIB
donald trumppemerintahan as
Tillerson Bela Trump Terkait Isu Kesehatan Mental
Presiden AS Donald Trump (tengah) bersama Menlu AS Rex Tillerson (kiri) dan Menhan AS James Mattis. (Foto: AFP/SAUL LOEB)

Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson membela Presiden Donald Trump usai sebuah buku terbaru memicu keraguan di benak warga mengenai kesehatan mental sang kepala negara. 

Dalam sebuah wawancara di sebuah saluran televisi, Tillerson ditanya mengenai klaim bahwa Trump hanya bisa memerhatikan suatu hal dalam waktu singkat, sering mengulang kata-kata serta menolak membaca sejumlah dokumen.

"Saya tidak pernah mempertanyakan kesehatan mentalnya. Saya tidak punya alasan mempertanyakan kesehatan mentalnya," ujar Tillerson, yang tahun lalu dipaksa mengklarifikasi laporan bahwa dirinya pernah menyebut Trump sebagai "orang bodoh."

Terus membela Trump, mantan pemimpin ExxonMobil itu juga mengakui dirinya baru menyadari cara menyampaikan informasi yang tepat kepada Trump. Ia menilai Trump sebagai presiden yang sangat berbeda dari tokoh lainnya dalam membuat keputusan.

"Saya harus belajar cara dia menerima informasi, memprosesnya dan membuat keputusan," ujar Tillerson kepada CNN, Jumat 5 Januari 2018. "Saya ada di sini untuk melayani kepresidenannya. Jadi saya harus menghabiskan banyak waktu untuk memahami cara berkomunikasi dengnanya."

Namun, terlepas dari kesulitan yang dihadapi keduanya dalam berkomunikasi, Tillerson berkukuh sejumlah keputusan tepat telah diambil Trump. Ia menyebut AS berada di posisi yang lebih kuat di panggung internasional berkat berbagai kebijakan Trump.

Bukan Presiden Biasa

"Dia bukan presiden tipikal di masa lalu, saya rasa semua orang juga menyadari itu. Itulah mengapa masyarakat AS memilih dia," ungkap Tillerson.

Tillerson membela Trump terkait peluncuran buku "Fire and Fury: Inside the Trump White House" yang ditulis Michael Wolff. Buku itu sudah tersebar di banyak toko sebelum sempat digagalkan Gedung Putih.

Buku itu laris terjual, bahkan beberapa orang rela mengantre hingga tengah malam. Trump menyebut buku itu sebagai karya "palsu" dan "penuh kebohongan."

Wolff, seorang jurnalis kontroversial, mengutip beberapa ajudan Trump dalam bukunya. Beberapa kutipan itu mengekspresikan keraguan mengenai kemampuan Trump memimpin negara dengan perekonomian dan militer terbesar di dunia.

"Seratus persen orang di sekelilingnya mempertanyakan kesehatan mentalnya," ujar Wolff dalam sebuah wawancara dengan NBC

"Mereka semua bilang dia seperti anak kecil," lanjut dia.


(WIL)