Iran Bersiap Hadapi Penjatuhan kembali Sanksi AS

Arpan Rahman    •    Senin, 06 Aug 2018 17:14 WIB
amerika serikatnuklir iraniran
Iran Bersiap Hadapi Penjatuhan kembali Sanksi AS
Seorang warga Iran menarik uang dari sebuah ATM di Teheran, 31 Juli 2018. (Foto: AFP/ATTA KENARE)

Teheran: Rakyat Iran bersiap menghadapi penjatuhan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat di tengah gelombang protes dan pemberantasan korupsi di jajaran pemerintahan Presiden Hassan Rouhani.

Aksi protes sporadis dan mogok massal terjadi di beberapa kota di Iran dalam beberapa hari terakhir. Demonstrasi dilatarbelakangi rasa khawatir warga atas kekurangan air bersih, kondisi perekonomian secara umum, dan buruknya atmosfer politik.

Awak media melaporkan pengerahan besar-besaran polisi antihuru-hara di Iran pada Minggu malam, termasuk satu mobil lapis baja di kota Karaj, tepat di sebelah barat Teheran yang menjadi pusat kerusuhan.

Seperti dikutip dari AFP, Senin 6 Agustus 2018, internet diputus pemerintah di kota tersebut. Pemutusan dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memblokade laporan mengenai gelombang protes dan pembatasan akses bagi wartawan asing.

AS akan menjatuhkan kembali serangkaian sanksi ekonomi kepada Iran pada Selasa 7 Agustus, menyusul keputusan Presiden Donald Trump yang mundur dari kesepakatan nuklir 2015 pada Mei lalu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menegaskan AS akan "memberlakukan sanksi" dan tekanan pada Teheran untuk "menghadapi aktivitas menyimpang Iran."

Ketegangan saat ini memicu anjloknya mata uang Iran, yang telah kehilangan lebih dari setengah nilainya sejak April lalu. Hal ini juga memperburuk kekhawatiran tentang tinggi angka pengangguran dan inflasi.

Rouhani berencana memberikan pidato televisi kepada warga Iran pada Senin ini, sekitar pukul 21:40 waktu setempat, untuk menguraikan rencana menanggulangi penurunan nilai mata uang dan dampak sanksi AS.


(WIL)


Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

23 hours Ago

Trump menyebut Rusia tidak patuh terhadap semangat dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

BERITA LAINNYA