Intelijen Senat AS: Bukti Trump Didukung Rusia Mulai Muncul

Sonya Michaella    •    Rabu, 12 Jul 2017 11:01 WIB
pemilu as
Intelijen Senat AS: Bukti Trump Didukung Rusia Mulai Muncul
Presiden AS Donald Trump diduga memenangkan pemilu karena bantuan Rusia. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Wakil Ketua Komite Intelijen Senat Amerika Serikat (AS) Mark Warner mengatakan bahwa pengakuan dari Donald Trump Jr bahwa ia bertemu dengan orang-orang Rusia adalah bukti yang mulai menyeruak ke permukaan satu per satu.

Selama ini, Presiden AS Donald Trump menyangkal bahwa kemenangannya di pilpres tahun lalu ada campur tangan Rusia. Bahkan, FBI yang menyelidiki kasus ini berbulan-bulan disebutnya kolusi.

"Ini adalah pertama kali publik melihat bukti yang jelas dari tim kampanye Trump untuk menjegal Hillary Clinton," kata Warner kepada CNN, Rabu 12 Juli 2017.

Namun, Warner berpendapat bahwa pengakuan dari Trump Jr ini adalah sebuah 'pola berkelanjutan' dari ayahnya di mana bisa dipastikan orang nomor satu di Amerika tersebut akan mengatakan bahwa pernyataan ini hanya untuk menurunkannya dari kursi presiden.

Laporan tentang pertemuan Trump Jr beserta timnya dengan pengacara asal Rusia, Natalia Vesenitkaya pertama kali dirilis oleh New York Times, dua hari yang lalu.

Ketika dikonfirmasi kepada Trump Jr, ia mengakui bahwa bertemu dengan 'seorang wanita dari Rusia' namun tak mengetahui siapa namanya.

"Wanita itu hanya mengatakan bahwa ia mempunyai informasi soal Clinton dan ketika saya datang, ternyata informasinya tidak berarti," kata Trump Jr.

Sementara, baru saja Trump Jr membeberkan sendiri isi email dari seorang bernama Rob Goldstone. 

Goldstone, yang mewakili anak seorang pengusaha Azerbaijan-Rusia yang diketahui dekat dengan Pemerintah Rusia, menuliskan di email tersebut bahwa seorang jaksa besar Rusia telah menawarkan Trump "beberapa dokumen resmi dan informasi yang akan menjegal Hillary Clinton".

Email tersebut ditujukan langsung ke email pribadi Trump Jr dan tertera dikirim pada 8 Juni 2016. Pada bulan itu, Trump sedang gencar melawan Clinton dalam kampanye pilpres AS.


(FJR)