Tingkat Kehadiran Rendah, KTT GNB Tak Sesuai Harapan Maduro

Arpan Rahman    •    Minggu, 18 Sep 2016 17:05 WIB
ktt gnb
Tingkat Kehadiran Rendah, KTT GNB Tak Sesuai Harapan Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) bersama sejumlah peserta KTT GNB di Porlamar, Pulau Margarita, 17 September 2016. (Foto: AFP/RONALDO SCHEMIDT)

Metrotvnews.com, Porlamar: Hanya sedikit kepala negara yang memenuhi undangan ke Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Venezuela, negara yang saat ini sedang dilanda krisis di beberapa sektor. 

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyebut pertemuan ke-17 Gerakan Non-Blok (GNB) sebagai salah satu yang akan "dikenang selama berabad-abad". Pemimpin sayap kiri yang tidak populer itu seakan berupaya meningkatkan legitimasi internasional, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (18/9/2016). 

Tingkat kehadiran dari 120 negara blok era-Perang Dingin ke GNB telah menciut dibandingkan dengan pertemuan terakhir, termasuk KTT sebelumnya di Iran pada 2012, yang dihadiri oleh 35 kepala negara.

Presiden Robert Mugabe dari Zimbabwe, Hassan Rouhani (Iran), dan Mahmoud Abbas (Palestina), serta para sekutu regional dari Kuba, Ekuador, dan Bolivia tampak di antara beberapa kepala negara yang mendarat di Porlamar, Pulau Margarita, kepulauan Karibia.

GNB, gerakan lawas yang dibentuk setengah abad silam oleh negara-negara yang ingin menghindari persekutuan dengan Amerika Serikat (AS) atau Uni Soviet, telah surut relevansinya sejak beberapa tahun terakhir. 

Kehadiran para kepala negara dalam KTT GNB terbaru sangat rendah, bahkan mungkin bisa dihitung jari. Pemerintah Venezuela tidak menanggapi permintaan untuk menunjukkan daftar total peserta.

Pihak oposisi Venezuela, yang bersaing untuk menyingkirkan Maduro dalam sebuah referendum pembatalan, menyindir rendahnya kehadiran peserta.

"Jutaan dolar uang rakyat Venezuela dihabiskan untuk ego pemerintah. Banyak negara tidak datang ke acara!" kata pemimpin oposisi Henrique Capriles. 

Di antara ketidakhadiran itu, salah satu negara pendiri dan anggota kunci, India, tidak mengirimkan Perdana Menteri Narendra Modi. Ini kedua kalinya pemimpin negara itu melewatkan pertemuan puncak sejak GNB didirikan tahun 1961.

Venezuela Dilanda Krisis


KTT GNB di Pulau Margarita, Venezuela. (Foto: AFP)

Reporter Al Jazeera, John Holman, melaporkan dari Pulau Margarita, mengatakan bahwa topik yang dibahas pada Sabtu meliputi penderitaan rakyat Palestina, mendekatkan kembali Kuba dengan Amerika Serikat, dan kesulitan politik yang dihadapi Maduro.

Venezuela sedang mengalami krisis ekonomi besar yang memicu memburuknya kekurangan pangan dan inflasi tiga digit.

"Presiden Maduro mengalami kesulitan saat ini. Ekonomi Venezuela sedang menuju reruntuhan. Dia berurusan dengan masalah keamanan," kata Holman.

Pulau Margarita dulu dikenal sebagai "Mutiara dari Karibia," sebuah pintu gerbang wisata yang menarik pengunjung dari seluruh dunia. Tapi kini tingkat hunian hotel di bawah setengah dari tahun lalu. Dan Maduro sempat dipermalukan oleh beberapa penghuni pulau baru-baru ini, yang mengejarnya di perkampungan kumuh, sambil memukul-mukul panci dan wajan.

Para delegasi yang datang sudah mengeluhkan secara pribadi mengenai lambannya pengaturan acara, penundaan, dan hotel yang jorok. Keluhan tetap muncul kendati Venezuela telah berupaya membuat Pulau Margarita gemerlap dengan mengecat jalan, menyediakan rak-rak swalayan, dan meningkatkan keamanan di pulau rawan kejahatan.

Venezuela meresmikan patung (mantan Presiden Hugo) Chavez sebelum puncak acara pada Jumat 16 September, mengambil alih kepemimpinan GNB satu hari setelahnya, dan dokumen akhir KTT telah ditetapkan untuk menyuarakan solidaritas bersama Maduro.

"Orang-orang Venezuela penuh hasrat dan kebanggaan," kata Maduro dalam pidatonya pada Sabtu.



(WIL)

JK Kritisi PBB di Sidang Umum ke-71 PBB

JK Kritisi PBB di Sidang Umum ke-71 PBB

7 hours Ago

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan sejumlah kritik terhadap PBB termasuk saran untuk mereformasi…

BERITA LAINNYA