PBB Masih Inginkan Penyelidikan Independen Kasus Khashoggi

Arpan Rahman    •    Rabu, 31 Oct 2018 15:56 WIB
Jamal Khashoggi
PBB Masih Inginkan Penyelidikan Independen Kasus Khashoggi
Jamal Khashoggi dikenal sebagai pengkritik keluarga Kerajaan Arab Saudi. (Foto: AFP).

New York: Komisioner Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk hak asasi manusia menyerukan pada Selasa untuk investigasi independen dan netral terhadap kematian wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
 
Michelle Bachelet mengatakan dia menyambut langkah yang diambil oleh Pemerintah Turki dan Saudi untuk menyelidiki kematian itu. Tetapi mengingat keterlibatan nyata Saudi dalam pembunuhan tersebut, 'standar harus diatur sangat tinggi.'
 
"Demi penyelidikan yang akan dilakukan bebas dari setiap tindakan pertimbangan politik, keterlibatan para ahli internasional, dengan akses penuh kepada bukti dan saksi, akan sangat dibutuhkan," kata Komisioner HAM PBB, Bachelet, seperti disitat dari kantor berita UPI, Rabu 31 Oktober 2018.
 
Pada 20 Oktober, Arab Saudi mengkonfirmasi Khashoggi meninggal 2 Oktober setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Ia semula mengurus dokumen untuk pernikahan yang direncanakannya. Pemerintah kerajaan mengatakan dia meninggal setelah terlibat perkelahian, tetapi rekaman audio menunjukkan dia disiksa dan dimutilasi.
 
Khashoggi adalah seorang warga negara Saudi yang pindah ke Amerika Serikat pada 2017 dan menjadi kolumnis untuk Washington Post. Dia menulis sejumlah kolom yang mengkritik pemerintah Saudi, termasuk Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Riyadh menggambarkan insiden itu sebagai operasi kejahatan.
 
Pada Sabtu, Saudi mengatakan akan bertanggung jawab atas penyelidikan dan menolak permintaan Ankara atas 18 tersangka untuk diekstradisi ke Turki. Bachelet menyerukan kedua negara bekerja bersama dan agar jasad Khashoggi diperiksa.
 
"Pemeriksaan forensik, termasuk otopsi di mayat korban adalah unsur penting dalam setiap penyelidikan pembunuhan, dan saya mendesak pihak berwenang Saudi guna mengungkapkan keberadaan jasadnya tanpa penundaan lebih lanjut atau pengingkaran," katanya.
 
Sementara itu, Jaksa Agung Saudi Saud al-Mujib, tiba di kota Istanbul, Turki pada Senin untuk bergabung dengan penyelidikan bersama atas pembunuhan kolumnis Washington Post berusia 59 tahun ini. Ia dilaporkan meminta semua bukti dalam kasus ini, termasuk rekaman dan kesaksian. Permintaan ini ditolak, menurut surat kabar Yeni Safak, yang dekat dengan Pemerintah Turki.
 
Sementara Arab Saudi terus mengesampingkan tuntutan Turki bahwa 15 tersangka diduga terlibat dalam perencanaan, eksekusi, dan menutupi pembunuhan diinterogasi dan diadili di Turki. Di Ankara, pada Selasa, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut kerjasama yang lebih besar dari Arab Saudi.
 
Ketidakpercayaan antara kedua negara mengintai di pusat perselisihan. Setelah menolak tanggung jawab atas nasib Khashoggi, Saudi mendesak dunia untuk bertanya kepada Turki apa yang terjadi atas dirinya. Riyadh mengubah cerita beberapa kali sebelum akhirnya mengakui pekan lalu bahwa Khashoggi terbunuh dalam sebuah plot terencana di dalam konsulat.


(FJR)