Tewasnya Aktivis Lingkungan Capai Rekor Tertinggi Pada 2016

Arpan Rahman    •    Jumat, 14 Jul 2017 18:07 WIB
lingkungan
Tewasnya Aktivis Lingkungan Capai Rekor Tertinggi Pada 2016
Rekor tercipta dari catatan jumlah aktivis lingkungan yang tewas pada 2016 (Foto: Global Witness).

Metrotvnews.com, California: Rekor tercipta dari catatan jumlah aktivis lingkungan yang tewas pada 2016. Hal ini diutarakan dalam laporan Global Witness.
 
Sedikitnya 200 aktivis tewas di 24 negara tahun lalu, dibandingkan dengan 165 di 14 negara pada 2015, kata laporan tersebut. Sedikitnya 40 persen dari mereka yang terbunuh adalah penduduk asli. 
 
Meskipun terjadi peningkatan kematian, hanya ada sedikit tuntutan dan kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka menemukan "bukti kuat" bahwa polisi dan militer berada di balik setidaknya 43 pembunuhan "dengan aktor swasta seperti penjaga keamanan dan pembunuh bayaran yang terkait dengan 52 kematian."
 
"Terjadi epidemi sekarang, sebuah budaya impunitas, sebuah perasaan bahwa setiap orang dapat membunuh pegiat lingkungan tanpa akibat, menghilangkan siapa pun yang menghalangi," kata John Knox, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai hak asasi manusia dan lingkungan, mengatakan kepada The Guardian, seperti dikutip UPI, Kamis 13 Juli 2017.
 
Global Witness mengatakan bahwa konflik mengenai penguasaan lahan dengan sumber daya alam, seperti minyak dan mineral, terkait dengan 33 pembunuhan di tahun 2016, sebagian besar dari berbagai industri. Aktivis yang menentang penebangan mati terbunuh 23 kali pada 2016, demikian juga mereka yang membela lahan melawan kepentingan agribisnis.
 
Negara yang paling mematikan adalah Brasil, menurut laporan tersebut, yang menyumbang 49 kematian aktivis lingkungan. Kolombia berada di posisi kedua dengan 37, dan Filipina berada di urutan ketiga dengan 28 kematian. India dan Honduras berada di urutan keempat dan kelima, masing-masing dengan 16 dan 14 kematian.
 
"Hak asasi manusia dilucuti karena budaya impunitas sedang berkembang," kata Knox. 
 
"Sekarang ada banyak insentif untuk menghancurkan lingkungan karena alasan ekonomi. Orang-orang yang paling berisiko adalah orang-orang yang sudah terpinggirkan dan dikecualikan dari politik dan pemulihan yudisial, serta bergantung pada lingkungan. Negara-negara tidak menghormati peraturan hukum. Di mana pun di dunia, para pembela HAM menghadapi ancaman," serunya.
 
Kolombia dan India ditunjukkan sebagai negara-negara di mana situasinya telah memburuk bagi aktivis lingkungan.
 
Meskipun muncul kesepakatan damai antara pemerintah dan pemberontak FARC, Kolombia mengalami tahun terburuk dalam catatan kematian aktivis lingkungan pada 2016. Selain itu, kelompok paramiliter yang terkait dengan pemerintah dicurigai berada di sedikitnya 22 pembunuhan dari total 37 aktivis lingkungan hidup.
 
Jakeline Romero, seorang aktivis yang mewakili penduduk asli Wayuu asal Kolombia, mengatakan bahwa dia dan anak-anak perempuannya terancam.
 
"Bagi orang-orang Wayuu kami membayar harganya dengan hidup kita, kami membayarnya budaya kita," kata Romero. 
 
"Kami membayar dengan ancaman dibasmi... hanya karena kami mempertahankan sebidang tanah kecil yang biasa memberi kami cukup makanan," bubuhnya.
 
Di India, 16 aktivis tewas dan petugas polisi dicurigai melakukan setidaknya 10 pembunuhan. "Ada rincian lengkap pelanggaran hukum," kata penulis dan aktivis sosial yang dikenal dengan nama Rinchin.



(FJR)