Dampak Kerusakan Badai Harvey Dipantau dari Udara

Arpan Rahman    •    Sabtu, 02 Sep 2017 15:09 WIB
topan badai
Dampak Kerusakan Badai Harvey Dipantau dari Udara
Banjir akibat Badai Harvey yang melanda wilayah Houston, Texas (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Houston: Terbang melintasi Houston hampir setiap hari sudah seperti sebuah kartu pos khas Amerika: jalan raya yang saling-silang, gedung pencakar langit, plaza perbelanjaan raksasa, kilang-kilang minyak, rumah-rumah besar, padang rumput surganya ternak. Lalu semuanya jadi pemandangan buruk setelah terpaan Badai Harvey.
 
"Saya punya ide, tapi begitu Anda berhasil sampai di sana dan benar-benar melihatnya secara fisik, airnya seakan tiada habis," kata David Phillip, fotografer Associated Press yang telah menganggap Houston rumahnya selama dua dekade.

(Baca: Jumlah Korban Tewas Badai Harvey Capai 35 Orang).
 
Phillip melaporkan pandangan mata dari udara pekan ini sesudah Harvey menumpahkan lebih dari 127 sentimeter hujan di dan sekitar kota terbesar keempat di negeri Paman Sam. Foto-fotonya menunjukkan deretan jalan-jalan di pinggiran kota berubah menjadi kanal dan air bah kecoklatan merayap naik ke atap rumah. Dalam sebuah foto, jalan panjang buntu cul-de-sac di sela rumah-rumah besar menyerupai jembatan yang terlipat di atas parit.
 
Phillip tercengang oleh banjir yang menenggelamkan jembatan Interstate 69 di atas Sungai San Jacinto.
 
"Itu membuat Anda berhenti sejenak dan memikirkannya. Ini rumah saya. Sudah 20 tahun. Sangat sulit melihat teman dan tetangga Anda dan orang-orang di masyarakat melewatinya," katanya, seperti disitat Associated Press, Jumat 1 September 2017.
 
Phillip tak pernah berhenti sejak Harvey melanda, Jumat malam. Dia mulai meliput di Galveston, dan pada Minggu mengemudi secara sembrono di jalan raya Interstate 610 di Houston, yang biasanya salah satu bagian jalan raya tersibuk di Amerika Serikat (AS). Kemudian dia berada di kapal penyelamatan, saat menemukan sesuatu, membuatnya berbalik mundur dan keluar dari kapal. 
 
Baling-baling kapal sempat membelit kakinya sebelum Phillip menariknya dari air, membiarkan kakinya memar. Dia kehilangan kacamata dan lensa kameranya hancur.
 
Phillip, 51 tahun, tidak asing lagi memotret badai dahsyat, termasuk Badai Katrina pada 2005. Seiring air dari Harvey surut, dia melihat kehancuran yang biasa terjadi. "Semuanya, umumnya, 4 kaki (1,2 meter) tingginya dari setiap rumah." Jalan-jalan di Houston sekarang digenangi sofa, lantai kayu keras, alas tiang-tiang, dan piano.
 
Dia menyebut liputan Badai Harvey kali ini lebih pribadi daripada tugasnya dalam badai sebelumnya. Phillip mengatakan, pada Rabu, bahwa hari pertamanya dia dapat berjalan-jalan dengan bebas lagi, dan di pemukiman Meyerland, dia menemukan pemilik rumah merobek pelapis dinding dan mencoba menyelamatkan barang-barang.
 
"Orang-orang harus menghancurkan jendela rumah tetangga untuk sampai ke lantai kedua sambil berenang melewati banjir. Merayap menembus jendela. Berenang agar dijemput," kata Phillip. 
 
"Semua orang punya kisah tentang bertahan hidup," pungkasnya.
 
Tercatat hingga saat ini 35 orang dilaporkan tewas akibat badai ini dan 17 lainnya masih dinyatakan hilang. Badai sudah memaksa 32 ribu orang berlindung ke tempat pengungsian.

(FJR)