Trump Sebut Penembakan Las Vegas "Aksi Kejahatan Murni"

Willy Haryono    •    Selasa, 03 Oct 2017 15:20 WIB
penembakan as
Trump Sebut Penembakan Las Vegas
Presiden Donald Trump berpidato terkait penembakan Las Vegas di Gedung Putih, Senin 2 Oktober 2017. (Foto: White House)

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut penembakan massal di Las Vegas sebagai "aksi kejahatan murni." Menewaskan 59 orang dan melukai 500 lainnya, peristiwa di Las Vegas itu disebut-sebut sebagai penembakan paling mematikan dalam sejarah AS modern.

Dalam pernyataan berelemen religius, Trump mengaku akan berkunjung ke Las Vegas pada Rabu 4 Oktober 2017. 

"Persatuan kita tidak dapat dihancurkan oleh kejahatan. Ikatan kita tidak bisa dihancurkan oleh kekerasan. Meski kita merasakan amarah atas pembunuhan ini, namun rasa cinta lah yang menjadikan kita semua masyarakat AS saat ini dan selamanya," ungkap Trump di Gedung Putih, seperti dikutip Guardian, Senin 2 Oktober 2017. 

"Di masa sulit seperti saat ini, saya tahu kita sedang mencari semacam hikmah dari kekacauan, semacam cahaya dari kegelapan. Jawabannya tidak mudah. Namun keputusasaan seperti apapun dapat tercerahkan dengan secercah cahaya harapan," lanjut dia.

Selama ini, Trump sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah mengekspresikan sisi religiusnya. 

Sebelumnya setelah penembakan di Las Vegas terjadi, Trump menuliskan pernyataan perdananya via Twitter: "Rasa belasungkawa dan simpati saya sampaikan kepada korban dan keluarganya atas penembakan Las Vegas. Tuhan memberkati Anda!"

Mengheningkan Cipta

Momen mengheningkan cipta digelar di halaman Gedung Putih. Trump dan Wakil Presiden Mike Pence, didampingi istri masing-masing, berjalan keluar dari Gedung Putih di antara dua baris staf diplomatik, termasuk Ivanka Trump. 

Mereka kemudian menundukkan kepala dan mengheningkan cipta, untuk kemudian berjalan kembali ke dalam Gedung Putih. 

Pelaku penembakan diketahui bernama Stephen Paddock, pria paruh baya yang menembaki kerumunan penonton sebuah konser dari lantai 32 Hotel Mandala Bay pada 1 Oktober 2017. 

Polisi sempat mengejar teman wanita pelaku yang disebut-sebut keturunan Indonesia. Setelah diselidiki, wanita bernama Marilou Danley itu adalah warga Australia keturunan Filipina. 

Otoritas Las Vegas menyatakan Danley sudah bukan lagi target buruan karena diyakini tidak terlibat dalam penembakan.

Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan ini, walau belum dapat dikonfirmasi pemerintah AS.

 


(WIL)