Kondisi Semenanjung Korea Jadi Bahasan Bersama Menlu RI dan Wapres AS

   •    Jumat, 05 May 2017 10:59 WIB
indonesia-as
Kondisi Semenanjung Korea Jadi Bahasan Bersama Menlu RI dan Wapres AS
Pertemuan antara Menlu Retno Marsudi dan Wapres AS Mike Pence di Washington (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Metrotvnews.com, Washington: Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence. Isu terorisme dan kondisi Semenanjung Korea menjadi perhatian.
 
Selain itu, Menlu Retno dan Wapres Mike Pence turut berdialog mengenai upaya memperkuat kerja sama menguntungkan antara Indonesia dan AS.
 
"Indonesia siap perluas dan perkuat kerja sama yang saling menguntungkan dengan Amerika Serikat di berbagai bidang," tegas Menlu Retno Marsudi saat melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden AS, Mike Pence di Washington D.C, Kamis 4 Mei 2017 waktu setempat.
 
Kunjungan kehormatan kepada Wapres Pence dilakukan guna menindaklanjuti hasil kunjungan Wakil Presiden Pence ke Jakarta 20-21 April yang lalu. Dalam kunjungan tersebut, salah satu hal penting yang menjadi komitmen tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Pence adalah penjajakan mekanisme bilateral dalam bidang perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan bagi Indonesia dan Amerika Serikat.
 
"Hubungan Perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat bersifat komplementari sehingga potensi pengembangan kerja sama perdagangan diantara kedua negara sangat terbuka lebar," ungkap Menlu Retno, dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri, yang diterima Metrotvnews.com, Jumat 5 Mei 2017.
 
Bagi Indonesia, Amerika Serikat adalah salah satu pangsa pasar terbesar bagi produk ekspor Indonesia dengan nilai USD15,68 Miliar dengan 11,94 persen market share pada 2016. Di saat yang sama, Indonesia dengan 250 juta penduduk dan jumlah kelas menengah yang terus bertambah adalah pasar besar bagi produk Amerika.


Pertemuan antara Menlu Retno Marsudi dan Wapres AS Mike Pence (Foto: Dok.Kemenlu RI).
 
 
Selain itu, Menlu juga membahas upaya kerja sama strategis Indonesia-Amerika Serikat untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme melalui pendekatan soft power. Dengan jumlah penduduk lebih dari 223 juta Muslim yang moderat, toleran dan demokratis,-sekitar 87,18 persen dari seluruh total penduduk Indonesia,- terbesar di dunia, Indonesia memiliki kredensial besar dalam memimpin upaya global dalam melawan ideologi radikal. 
 
Persepsi global yang mengkaitkan tindakan terorisme dengan ajaran dan agama tententu harus diluruskan karena tidak akan menyelesaikan masalah bahkan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih luas.
 
"Indonesia adalah contoh nyata bahwa tindakan terorisme tidak terkait dengan agama tertentu. Islam di Indonesia memberikan pesan perdamaian dan toleransi dan mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi semua umat," tutur Menlu Retno.
 
Pembahasan terkait hal ini, menyusul pernyataan Wakil Presiden Mike Pence dalam kesempatan kunjungannya ke Indonesia April lalu, yang menyampaikan kekagumannya atas budaya toleransi dan wajah Islam moderat di Indonesia. Wakil Presiden Pence kembali memuji kebhinekaan dan toleransi di Indonesia saat bertemu dengan Menlu Retno dan menyampaikan kekaguman yang dialami saat di Jakarta ke berbagai pihak di Amerika Setikat.
 
Dalam kaitan ini, Menlu RI menyampaikan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi merupakan softpower dan modal utama dalam membendung idiologi radikal dan terorisme. Bagi Indonesia, upaya mendorong nilai toleransi dan harmoni serta melawan ideologi radikal terorisme yg bertentangan dengan nilai kebhinekaan, kemajemukan dan jati diri Indonesia adalah bagian dari kepentingan nasional. 
 
"Nilai-nilai pluralisme dan toleransi merupakan aset bangsa Indonesia yang sangat dikagumi oleh bangsa lain, termasuk oleh AS. Kita harus bangga dan terus menjaga nilai luhur bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan pluralisme," tandas Menlu RI.
 
Terkait perkembangan di kawasan, kedua pemimpin membahas mengenai situasi di semenanjung Korea yang sedang memanas. Amerika Serikat harus terus memberikan sumbangan yang konstruktif bagi upaya untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan sangat penting menyusul situasi terkini yang berkembang di Semenanjung Korea.
 
"Tidak ada negara yang diuntungkan jika konflik terjadi di kawasan kita. Tidak ada pilihan lain bagi semua negara kecuali harus menahan diri dan tidak melakukan tindakan provokasi sekecil apapun," tutup Menlu.
 
AS merupakan mitra dagang RI terbesar keempat. Pada 2016, nilai perdagangan bilateral Indonesia-AS tercatat sebesar USD23,4 Miliar. AS adalah investor asing peringkat ke-6 di Indonesia dengan nilai investasi USD1,16 milyar yang tersebar dalam 540 proyek.



(FJR)