Trump Anggap Campur Tangan Rusia sebagai Isu Buatan

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 05 Aug 2017 12:45 WIB
pemerintahan as
Trump Anggap Campur Tangan Rusia sebagai Isu Buatan
Presiden Donald Trump anggota fabrikasi isu keterlibatan Rusia dalam Pilpres 2016 (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai tuduhan campur tangan Rusia dalam Pemilu Presiden 2016 sebagai isu buatan.
 
Penyelidik khusus Robert Mueller sudah melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi, untuk pemeriksaan mendalam.
 
"Apa yang terjadi dengan Rusia adalah 'fabrikasi total', ini adalah sebuah alasan untuk kekalahan besar dalam politik Amerika Serikat," ujar Trump di hadapan pendukungnya, Kamis 3 Agustus.
 
"Banyak yang tahu bahwa tidak ada Rusia dalam kampanye kami, tidak pernah ada. Kami menang karena kalian (pendukung Trump)," tegasnya Trump, seperti dikutip dari DW, Sabtu 5 Agustus 2017.
 
Robert Mueller sudah mengeluarkan surat panggilan bagi para saksi. Hal ini umumnya dilakukan, jika jaksa ingin mendapatkan dokumen-dokumen yang disimpan oleh seseorang atau memaksa seorang saksi menyerahkan bukti-bukti dalam sebuah kasus kriminal.
 
The New York Times menyebutkan beberapa surat panggilan itu antara lain untuk mencari 'dokumen yang berkaitan dengan urusan bisnis' Michael Flynn, mantan penasihat keamanan nasional Trump.
 
Flynn, yang mengundurkan diri Februari lalu setelah mengaku memberikan 'informasi yang tidak lengkap' tentang komunikasinya dengan Duta Besar Rusia Sergei Kislyak, juga telah dipanggil oleh dewan juri di Virginia serta komite Senat dan DPR.
 
CNN melaporkan, surat panggilan lain yang dikeluarkan Mueller adalah untuk meminta "dokumen dan kesaksian dari orang-orang yang terlibat" dalam Donald Trump Jr dan seorang pengacara Rusia tahun 2016.
 
Seorang pengacara Trump mengatakan bahwa dia tidak mengetahui adanya panggilan-panggilan itu, namun menekankan bahwa Gedung Putih akan terus bekerja sama dengan Mueller.
 
"Masalah dewan juri biasanya rahasia," kata pengacara Ty Cobb. "Gedung Putih mendukung apapun yang mempercepat kesimpulan karyanya secara adil."
 
Komite Senat dan Dewan Perkailan dan komisi independen sedang menyelidiki apakah ada kolusi antara anggota tim kampanye Trump dan Rusia untuk mempengaruhi hasil pemungutan suara bulan November lalu.
 
Komunitas intelijen AS telah menyimpulkan bahwa Rusia meretas sistem email Partai Demokrat dalam upaya untuk menjatuhkan Hillary Clinton Demokrat dan memenangkann Trump.
 
Sebagian anggota parlemen telah menyatakan kekhawatiran bahwa Trump bisa saja mengintervensi penyelidikan atau berusaha memecat penyelidik khusus Robert Mueller. Dua senator Kamis 3 Agustus mengajukan sebuah rancangan undang-undang yang akan mencegah presiden melakukan itu.
 
Trump mencemooh kesimpulan badan intelijen dan telah mencerca investigasi terhadap kolusi potensial dengan kampanyenya, dan menyangkal ada campur tangan Rusia. Dia mengatakan, penyelidikan seharunya lebih fokus pada email Hillary Clinton, bukan pada dirinya.



(FJR)