Ditinggal Fidel Castro, Warga Kuba Resah dengan Trump

Arpan Rahman    •    Minggu, 27 Nov 2016 17:13 WIB
fidel castro wafat
Ditinggal Fidel Castro, Warga Kuba Resah dengan Trump
Sekelompok warga memberikan penghormatan terakhir kepada Fidel Castro di Kedubes Kuba di Bogota, Kolombia, 26 November 2016. (Foto: AFP/GUILLERMO LEGARIA)

Metrotvnews.com, Havana: Dari peristiwa invasi Bay of Pigs hingga kunjungan bersejarah Presiden Barack Obama ke Havana, selama ini warga Kuba selalu merasa aman saat Amerika Serikat (AS) mengalihkan pandangannya kepada mereka, karena Fidel Castro akan selalu ada di sana dan berbalik menantang.

Tapi kematian "El Comandante" telah menambah kekhawatiran di kalangan warga Kuba terhadap AS. Pasalnya, presiden-terpilih AS Donald Trump bisa saja menutup kembali hubungan perdagangan dan pariwisata yang baru dibuka, menghancurkan dua tahun upaya mengendurkan ketegangan kedua negara. 

Sikap Trump sangat berbeda dari Obama, yang mencapai kesepakatan dua tahun lalu dengan adik Castro, Presiden Raul Castro, untuk mengakhiri setengah abad permusuhan.

Di akhir kampanye pemilihannya, Trump berusaha meyakinkan orang Amerika keturunan Kuba di Florida bahwa ia bersikukuh menentang Castro, dan berjanji, jika terpilih, akan menutup kedutaan AS yang baru dibuka kembali di Havana.

Sebelumnya, dalam pemilu pendahuluan, ia berkata memulihkan hubungan diplomatik dengan Kuba itu cukup baik, tapi Obama seharusnya menggali kesepakatan yang lebih baik.

Menurut Daily Mail, Minggu (27/11/2016), setelah memenangkan kursi kepresidenan, sulit untuk mengetahui apa pendekatan yang akan dilakukan Trump ke Kuba.

Setelah kematian Castro di usia 90, Obama menyebutnya "figur tak tergantikan," sementara Trump menggambarkan tokoh revolusioner komunis berjenggot sebagai "diktator brutal."

Tokoh Revolusi


Seorang anak meletakkan bunga di depan foto Fidel Castro. (Foto: AFP)

Castro memulai kariernya sebagai seorang revolusioner dengan menggulingkan pemerintah berkuasa yang didukung AS, menghantam invasi kontra-revolusioner yang disokong CIA di Bay of Pigs pada 1961, dan berhadapan melawan Presiden John F. Kennedy dalam krisis rudal Kuba setahun kemudian.

Selama 49 tahun berkuasa, Castro mengangkat senjata kepada sepuluh presiden AS. Ketika mengambil sikap yang lebih merendah setelah resmi pensiun pada 2008, Castro tidak pernah berhenti memperingatkan Kuba bahwa pemerintah AS tak bisa dipercaya.

Adiknya tidak pernah memberi banyak celah bagi pemerintahan Obama mencampuri liberalisasi sistem politik di Kuba.

"Dengan kepergian 'El Comandante', saya sedikit takut apa yang akan terjadi karena cara Trump berpikir dan bertindak," kata Yaneisi Lara, warga Havana 36 tahun, pedagang kaki lima dan penjual bunga.

"Dia bisa mengatur ulang dan memblokade segala sesuatu yang telah terjadi, semua hal yang banyak dilakukan Obama, mengurus hubungan AS lebih dekat ke Kuba," katanya, seraya mengakui dirinya sendiri mempertimbangkan hendak pindah ke AS.

Obama tidak berhasil meyakinkan Kongres untuk mencabut embargo ekonomi AS atas Kuba, namun secara pribadi ia menentang sanksi dan menggunakan tindakan eksekutif guna memungkinkan lebih banyak kontak dan perdagangan.

Penerbangan komersial perdana AS ke Havana setelah setengah abad dibekukan, dijadwalkan hadir kembali pada Senin 28 November.

Trump bisa dengan mudah meninjau langkah-langkah tersebut. Dia belum menjelaskan posisinya, tapi sudah memasukkan Mauricio Claver-Carone, advokat terkemuka yang mempertahankan embargo ekonomi, di tim transisinya.

Tanpa memberi isyarat spesifik, Trump berkata pada Sabtu 26 November, bahwa pemerintahannya akan "melakukan semua yang dia bisa" setelah menjabat pada 20 Januari demi membantu meningkatkan kebebasan dan kemakmuran bagi rakyat Kuba setelah kematian Castro.

Kebalikan dari Obama


Donald Trump dan Barack Obama. (Foto: AFP)

"Trump adalah kebalikan dari Obama," kata supir taksi bertubuh kekar di Havana, Pablo Fernandez Martinez, 39, saat bergegas pergi bekerja.

Hidup di Kuba masih sulit, bahkan bagi orang-orang berpendidikan. Namun menghangatnya hubungan dengan AS telah berimbas pada meningkatnya pendapatan. Martinez khawatir pendapatannya bisa menguap begitu Trump menduduki Gedung Putih.

"Mungkin hanya akan ada sedikit kunjungan turis. Itu akan memengaruhi semua orang di Kuba, dan memukul perekonomian," kata ayah satu anak, yang berpenghasilkan USD100-120 seminggu dari mengemudi untuk tamu asing.

Pedro Machado, 68, insinyur pensiunan dalam penelitian kelautan, sekarang menyewakan kamar di apartemen luasnya dekat "Malecon" pinggir laut Havana. Sambil menonton televisi dengan istrinya, Machado khawatir bahwa retorika kemarahan Trump bisa menyebabkan masalah.

"Kebijakan Trump sangat agresif. Kita harus melihat apa yang sebenarnya dia lakukan. Tapi itu jelas terlihat seperti berita buruk untuk Amerika Latin dan Kuba khususnya," katanya.

"Generasi saya mengambil keuntungan dari revolusi Fidel dalam hal pendidikan. Tidak semuanya hidup nyaman, tetapi Fidel membantu kami," tambahnya "AS bertindak bak sebuah kekaisaran, dan itulah yang diwakili Trump. Mengingat apa yang telah ia katakan, masa depan kami tampaknya tidak terlalu cerah."




(WIL)