Gedung Putih Abaikan Lelucon PM Australia Soal Presiden Trump

Arpan Rahman    •    Jumat, 16 Jun 2017 11:34 WIB
australia-as
Gedung Putih Abaikan Lelucon PM Australia Soal Presiden Trump
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull saat bertemu Presiden Donald Trump Mei lalu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Pihak Istana Presiden Amerika Serikat (AS) menepis berita tentang bocoran video Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull yang melontarkan lelucon tentang Donald Trump sambil menyinggung hubungan dengan Rusia, pada Kamis 15 Juni 2017.
 
"Saya tidak berpikir ada orang yang peduli akan hal itu," seorang pejabat senior Gedung Putih berkata mengenai seloroh Turnbull dalam sebuah pesta media di Parliament House, Canberra, pada Rabu 14 Juni malam yang selayaknya tidak direkam.
 
"Donald dibandingkan saya... alah, kita menang dalam poling. Kita! Bukan jajak pendapat palsu. Kita menang dalam poling yang asli. Anda tahu, jajak pendapat daring? Mereka sangat mudah menang," kata Turnbull dalam rekaman yang bocor itu, sambil menambahkan: "Saya tahu orang Rusia ini..."
 
Seorang editor veteran Channel Nine, Laurie Oakes, menyiarkan rekaman tersebut. Sambil katakan bahwa karena dia tidak sempat menghadiri pesta, dia tidak terikat oleh aturan kerahasiaan. Beberapa video acara itu muncul di Instagram.
 
Turnbull -- yang memulai hubungan telepon pertama yang amat dingin dengan Trump awal tahun ini -- kemudian mengatakan kepada stasiun radio 3AW: kebocoran tersebut merupakan pelanggaran protokol. Namun pidatonya yang "penuh suka ria" adalah "gorengan yang enak" di mana dia menjadi santapan leluconnya sendiri.
 
Kedutaan Besar AS di Canberra mengaku paham bahwa Pesta Media Musim Panas sebanding dengan Jamuan Makan Malam Koresponden Gedung Putih tahunan, di mana media dan Presiden AS secara akrab biasanya saling berkelakar.
 
"Kami mengerti bahwa yang dimaksudkan hanya humor," kata Kedubes AS, seperti dikutip The Guardian, Jumat 16 Juni 2017.
 
Turnbull menjadi salah satu pemimpin asing pertama yang berbicara dengan Trump setelah menjabat Presiden AS pada 20 Januari.
 
Selama pembicaraan telepon mereka, Trump menjadi kesal dengan kesepakatan yang dibuat oleh pendahulunya asal Partai Demokrat, Barack Obama, mau menerima sebanyak 1.250 pengungsi yang berada di pusat penahanan Australia di kepulauan terpencil Pasifik.
 
Setelah 25 menit, Trump memutuskan telepon yang awalnya dijadwalkan sebagai percakapan selama satu jam. Kemudian dia mencuit bahwa perjanjian pengungsi itu "dungu".
 
Wakil Presiden AS Mike Pence mengunjungi Australia pada April dan merajuk hati Turnbull bahwa walau Trump tidak senang dengan kesepakatan pengungsi, Amerika akan tetap menghormati itu.

(FJR)