Anak Trump Beberkan Email Bantuan Rusia untuk Ayahnya

Sonya Michaella    •    Rabu, 12 Jul 2017 09:16 WIB
pemilu as
Anak Trump Beberkan Email Bantuan Rusia untuk Ayahnya
Putra sulung Donald Trump, Donald Trump Jr. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Putra sulung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yaitu Donald Trump Jr, merilis email yang ia terima terkait pertemuannya dengan salah seorang pengacara yang diduga berasal dari Rusia, tahun lalu.

Dalam email yang dikirim dari 'Rob Goldstone' tersebut, terdapat pernyataan bahwa ada "bagian dari Rusia dan dukungan Rusia untuk kampanye Trump".

Goldstone, yang mewakili anak seorang pengusaha Azerbaijan-Rusia yang diketahui dekat dengan Pemerintah Rusia, menuliskan di email tersebut bahwa seorang jaksa besar Rusia telah menawarkan Trump "beberapa dokumen resmi dan informasi yang akan menjegal Hillary Clinton".

Email tersebut ditujukan langsung ke email pribadi Trump Jr dan tertera dikirim pada 8 Juni 2016. Pada bulan itu, Trump sedang gencar melawan Clinton dalam kampanye pilpres AS.

"Ini jelas merupakan informasi tingkat tinggi dan sensitif, namun merupakan bagian dari dukungan Rusia untuk Trump," tulis Goldstone.

Menjawab email dari Goldstone tersebut, Trump Jr terkesan menyetujui apa yang ditawarkan Goldstone. "Jika itu yang Anda katakan, saya suka," tulis Trump Jr.

Sementara itu, Trump Jr mengakui telah bertemu dengan pengacara asal Rusia bernama Natalia Vesenitskaya.

"Wanita itu menyebut dirinya mempunyai informasi bahwa ada orang-orang yang berhubungan dengan Rusia memberi dana kepada Komite Nasional Demokrat dan mendukung Clinton," ucap Trump Jr.

Berbicara kepada NBC News, Vesenitskaya membantah bahwa dirinya bertindak sebagai "wakil dari Rusia".

Email yang dibeberkan oleh Trump Jr sendiri di akun Twitter pribadinya tersebut jelas membuktikan bahwa keluarga Trump bersedia mempertimbangkan untuk menerima dukungan dari Pemerintah Rusia selama kampanye pilpres tahun lalu.

FBI pun telah melancarkan penyelidikan selama berbulan-bulan, usai Trump dilantik awal tahun lalu. Namun, Trump membantahnya dan menyebut penyelidikan FBI tersebut sebagai kolusi.



(FJR)