Perwira Intelijen Tiongkok Didakwa AS atas Dugaan Peretasan

Arpan Rahman    •    Rabu, 31 Oct 2018 18:04 WIB
peretasan
Perwira Intelijen Tiongkok Didakwa AS atas Dugaan Peretasan
Ilustrasi oleh Medcom.id

Washington: Amerika Serikat (AS) mendakwa 10 perwira intelijen Tiongkok dan mitra konspiratornya, pada Selasa 30 Oktober 2018. Mereka diduga melakukan peretasan, yang menargetkan teknologi mesin pesawat Amerika dan Eropa.
 
Tuduhan itu merupakan upaya terakhir oleh Kementerian Kehakiman AS untuk menindak dugaan spionase ekonomi oleh Tiongkok. Di saat perang dagang antara kedua negara belum menunjukkan tanda akan berakhir.
 
Awal bulan ini, mata-mata Tiongkok diekstradisi dari Belgia ke AS untuk menghadapi tuduhan upaya mencuri rahasia perdagangan yang berkaitan dengan mesin pesawat. Pada September, seorang tentara cadangan AS yang lahir di Tiongkok ditangkap karena diduga membantu agen-agen intelejen Tiongkok di AS.
 
"Ini baru permulaan," kata John Demers, kepala divisi keamanan nasional Kementerian Kehakiman AS. "Bersama dengan mitra federal, kami akan melipatgandakan upaya untuk menjaga kecerdikan dan investasi Amerika," tegasnya, seperti dilansir dari Financial Times, Rabu 31 Oktober 2018.
 
Kedutaan Besar Tiongkok di Washington belum mau memberi komentar. Dakwaan terbaru yang diajukan di distrik selatan California menyebutkan dua perwira intelijen Tiongkok sebagai terdakwa dan enam peretas lainnya bekerja buat mereka.
 
Dua terdakwa terakhir adalah karyawan perusahaan pesawat terbang Perancis yang berbasis di Tiongkok. Salah seorang diduga memberikan informasi kepada intelijen Tiongkok tentang penyelidikan internal perusahaan ke dalam skema peretasan, sementara yang lainnya dituduh menginstal virus di komputer perusahaan.
 
AS menduga semua 10 terdakwa menjadi bagian dari konspirasi peretasan komputer antara 2010-2015 yang dirancang guna mencuri teknologi mesin jet turbofan untuk perusahaan Tiongkok.
 
"Pada saat gangguan, sebuah perusahaan kedirgantaraan milik negara Tiongkok sedang bekerja untuk mengembangkan mesin yang sebanding untuk digunakan dalam pesawat komersial yang diproduksi di Tiongkok dan di tempat lain," bunyi dakwaan tersebut.
 
Pada September 2015, AS dan Tiongkok menandatangani perjanjian keamanan siber bilateral yang ditujukan demi mengurangi dugaan spionase ekonomi Tiongkok. Kesepakatan itu keluar setahun setelah AS menuduh lima pejabat militer Tiongkok meretas perusahaan-perusahaan Amerika.
 
Skema dugaan yang terungkap Selasa melibatkan rangkaian serangan siber yang tumpang tindih, termasuk meretas ke perusahaan sehingga surat elektronik dapat dikirim dari akun perusahaan dan membuat situs web palsu demi mengelabui korban agar menyerahkan sandi mereka.
 
Para terdakwa dituduh menargetkan 13 perusahaan di AS, Inggris, Prancis, dan Australia. Capstone Turbinesadalah satu-satunya bisnis yang disebutkan. Produsen turbin gas yang berbasis di Los Angeles itu tidak menjawab permintaan Financial Times untuk komentar.
 
Dakwaan itu diumumkan hanya beberapa pekan setelah Kementerian Kehakiman AS mengamankan kemenangan besar dengan ekstradisi perwira intelijen Tiongkok Yanjun Xu dari Belgia ke AS.
 
Xu, seorang pejabat Kementerian Keamanan Negara Tiongkok (MSS) dituduh berusaha mencuri rahasia dagang kedirgantaraan, diyakini sebagai perwira MSS pertama yang dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan.


(FJR)