PBB Targetkan Rp300 Triliun untuk Bantuan Kemanusiaan 2018

Willy Haryono    •    Sabtu, 02 Dec 2017 09:04 WIB
krisis suriahsuriah membarapbb
PBB Targetkan Rp300 Triliun untuk Bantuan Kemanusiaan 2018
Sebuah keluarga asal Suriah menanti usai mendarat di pulau Lesbos, Yunani, 17 November 2015. (Foto: AFP/BULENT KILIC)

New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan dana USD22,5 miliar atau lebih dari Rp300 triliun untuk bantuan kemanusiaan ke berbagai negara di tahun 2018. 

Dana ini akan disalurkan kepada 91 juta dari 136 juta orang yang membutuhkan di seluruh dunia.

Khusus untuk Suriah dan Yaman, seperti dikutip BBC, Jumat 1 Desember 2017, PBB mengatakan dana yang dibutuhkan mencapai lebih dari USD10 miliar atau separuh dari total yang ditargetkan tahun depan. 

PBB menambahkan kebutuhan kemanusiaan juga meningkat di beberapa negara Afrika. 

Menurut koordinator PBB Mark Lowcock, jumlah orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan meningkat di atas 5 persen akibat beragam konflik di Afrika dan Timur Tengah. 

Target dana bantuan kemanusiaan 2018 meningkat 1 persen dari yang dibutuhkan tahun lalu. Pada akhir November, PBB telah menggalang dana hampir USD13 miliar. 

Lebih dari sepertiga total bantuan dibutuhkan untuk korban perang sipil di Suriah. Rinciannya adalah USD3,5 miliar untuk warga di dalam negeri dan USD4,2 miliar untuk para pengungsi di beberapa negara tetangga.

Di Yaman, yang sedang dilanda krisis kemanusiaan terburuk di dunia, PBB mengatakan USD2,5 miliar sangat dibutuhkan bagi sejumlah warga yang berada dalam kondisi darurat. 

Terdapat 10 dari 20 juta orang di Yaman yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan saat ini. Sebelas juta dari mereka adalah anak-anak, dan 400 ribu di antaranya terkena malnutrisi akut. 

Sementara di Kongo, Ethiopia, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan dan Sudan, PBB menargetkan total bantuan lebih dari USD1 miliar untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Masih dari data PBB, jumlah orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan di beberapa negara termasuk Afghanistan, Irak, Mali dan Ukraina, telah menurun.


(WIL)