75 Mantan Diplomat AS Tolak Donald Trump sebagai Capres

Arpan Rahman    •    Kamis, 22 Sep 2016 10:57 WIB
pemilu as
75 Mantan Diplomat AS Tolak Donald Trump sebagai Capres
Mantan diplomat AS tolak Donald Trump sebagai capres (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Washington: Sebanyak 75 mantan diplomat senior menandatangani surat terbuka yang menentang Donald Trump. Isi surat itu menyatakan Donald Trump sepenuhnya tidak memenuhi syarat untuk jadi Presiden dan Panglima Tertinggi. 
 
Seperti dikutip The Washington Post, Rabu 21 September, surat terbuka itu ditandatangani para pensiunan perwira karir dinas luar negeri, termasuk duta besar dan pejabat senior Departemen Luar Negeri di bawah kepresidenan Partai Republik maupun Demokrat. Mereka semua telah bertugas hampir selama setengah abad terakhir.


Banyak pihak yang tidak menyukai Trump (Foto: AFP)

 
Para diplomat mengatakan "tidak satupun dari kami" akan memilih Trump. Mereka juga mengatakan meski tidak semua setuju dengan setiap keputusan Hillary Clinton, mereka semua mendukung pencalonannya.
 
"Karena taruhan dalam pemilihan ini sangat tinggi. Ini pertama kalinya banyak dari kami telah mendukung secara terbuka calon Presiden," isi surat tersebut. 
 
Ini bukan pertama kalinya penolakan secara terbuka dilontarkan kepada Trump. Musim semi lalu, lebih dari 100 pakar keamanan nasional Partai Republik menandatangani petisi sebelum Trump memenangkan nominasi Partai Republik. Petisi itu berisi pernyataan mereka tidak akan pernah bekerja untuk pemerintahan Trump.
 
Agustus lalu, 50 lebih anggota Partai Republik, termasuk mantan pembantu utama dan anggota kabinet untuk pemerintahan George W. Bush, menandatangani surat yang mengatakan Trump akan menjadi "presiden yang paling sembrono dalam sejarah Amerika". Mereka juga menegaskan bahwa tidak satupun dari mereka akan memilih Trump.
Hillary Clinton terus mendapatkan dukungan (Foto: AFP)
 
 
Pengecualian muncul awal September ini, surat lain yang diteken oleh 88 pensiunan jenderal dan pejabat militer memberi dukungan kepada Trump. Trump oleh mereka dinilai sebagai "koreksi yang lama tertunda dalam postur keamanan nasional kita."
 
Sebagian besar mantan pejabat di surat terbaru ini tidak pernah dikaitkan publik dengan satu partai politik. Mereka memutuskan untuk berbicara karena pemilihan ini berbeda dari seluruh pemilu yang dilalui Amerika Serikat.
 
"Trump, adalah kedunguan bersifat kompleks terhadap tantangan yang dihadapi negara kita, dari Rusia ke Tiongkok ke ISIS, untuk proliferasi nuklir, untuk pengungsi, untuk obat-obatan, tetapi dia sendiri menyatakan tidak tertarik untuk dididik," tegas para mantan diplomat itu.
 
Ide surat terbuka ini digagas Nelson Cunningham mantan penasihat pemerintah Partai Demokrat, dan James Keith mantan dubes untuk Malaysia. Keduanya sekarang bekerja untuk perusahaan konsultan internasional McClarty Associates bentukan Demokrat. Surat pertama kali dibagikan secara luas dari kawan ke kawan di kalangan komunitas pensiun urusan luar negeri.
 
Kandidat tanpa Kualitas
 
Beberapa penandatanganan menyatakan alasan berbeda. Ryan Crocker, yang pernah menjadi dubes di Afghanistan, Irak, dan Suriah menyindir dukungan para purnawirawan ke Trump. 
 
"Saya tidak tahu Donald Trump. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Namun berdasarkan apa yang dia katakan, saya pikir saya tidak mau tahu. Ini menakutkan," tutur Crocker.
 
John Maisto, mantan dubes untuk Organisasi Negara-negara Amerika, Venezuela, dan Nikaragua, yang juga bertugas di staf Dewan Keamanan Nasional di era Presiden Bush mengatakan, surat seperti itu pertama kalinya dia bubuhkan tanda tangan. Mengaku terdaftar sebagai pemilih independen, Maisto memberi alasan mau ikut serta karena pentingnya isi surat itu.
 
"Kandidat Partai Republik, seperti begitu banyak teman-teman saya dari Partai Republik telah sebutkan, tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan pekerjaan itu, di seluruh bidang. Dengan cara apapun. Dan kandidat Demokrat memiliki kualifikasi... Dia tidak sempurna, tapi memang tidak ada yang sempurna," imbuh Maisto.
 
Diplomat lain seperti Edward Marks dubes pemerintahan Ronald Reagan di Cape Verde dan Guinea-Bissau, Dan Kurtzer mantan dubes untuk Mesir dan Israel mengatakan, bertanda tangan karena alasan kebijakan tertentu. Daftar ini juga termasuk Thomas Pickering dubes veteran dan diplomat senior yang mulai bekerja di pemerintahan Presiden Harry Truman, dan Marc Grossman mantan dubes Turki yang menjabat asisten sekretaris di sekretariat negara era Bush.
 
Yang lain secara terbuka memilih Clinton, termasuk Laura Kennedy dubes era Bush di Turkmenistan, yang telah mengajukan diri untuk kampanye Clinton. Nicolas Burns pejabat di sekretariat negara untuk Bush dan mantan dubes untuk Yunani dikabarkan masuk di daftar singkat untuk posisi sekretaris negara Clinton.



(FJR)