Hillary Clinton Sebut Ancaman Perang ke Korut Sangat Berbahaya

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 18 Oct 2017 16:20 WIB
nuklir korea utara
Hillary Clinton Sebut  Ancaman Perang ke Korut Sangat Berbahaya
Hillary Clinton sebut ancaman AS ke Korut Sangat Berbahaya (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Hillary Clinton menuturkan sangat berbahaya memulai perang di Semenanjung Korea. Pernyataan ini ditujukan bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
 
Clinton, yang merupakan rival Trump saat Pemilihan Presiden AS beberapa waktu lalu manyarankan agar semua pihak berunding dalam satu meja negosiasi. Istri mantan Presiden Bill Clinton ini juga menyebut Tiongkok harusnya mengambil peran lebih banyak dalam memberikan sanksi bagi Korea Utara (Korut).
 
"Tidak perlu lagi bagi kita (AS) untuk bersikap lantang dan agresif pada Korea Utara," ujar Clinton dalam sebuah forum di ibu kota Seoul, Korea Selatan (Korsel), Rabu 18 Oktober 2017.
 
Dilansir dari laman Channel News Asia, ketegangan antaran Pyongyang dan Washington meningkat menyusul serangkaian tes senjata oleh Korut dan serangkaian pertengkaran antara pemimpin kedua negara, Trump dan Kim Jong-un. Clinton menuturkan, Trump seperti anak kecil karena mengajak Jong-un bertengkar.
 
"Memilih untuk adu pendapat dengan Kim Jong-un, hanya menambah senyum lebar di wajahnya," katanya.
 
Clinton juga secara tidak langsung merujuk pada penghinaan Trump terhadap Pyongyang. Menurutnya, hal tersebut hanya membuat malu negaranya dan tidak ada untung.
 
Mantan Menteri Luar Negeri AS itu juga mengatakan banyak sekutu Washington yang menyatakan keprihatinan mereka atas perbuatan Trump bagi AS. Mereka menasihati Washington untuk tidak mengesampingkan ancaman Pyongyang dan selalu bersabar menghadapi negara komunis tersebut.
 
Mengenai peran Tiongkok dalam penghijauan di Korea Utara, Clinton menyebutkan Beijing akan lebih baik dalam mengambil peran untuk memperketat dan benar-benar memberlakukan sanksi terhadap Pyongyang. Dia menambahkan, Negeri Tirai Bambu itu tidak perlu menghentikan bisnis perusahaan Korea Selatan (Korsel) usai penerapan sistem anti-rudal AS di Seoul.
 
Pasalnya, Tiongkok saat ini membatasi bisnis Korea Selatan di sana sejak Seoul memutuskan menerapkan sistem Pertahanan Ketinggian Daerah Tingkat Tinggi (THAAD), dengan mengatakan bahwa radar tangguhnya dapat digunakan untuk menembus wilayah negara itu.
 
Korea Selatan dan AS telah berulang kali menyatakan pada Tiongkok bahwa THAAD hanya bertujuan untuk mempertahankan diri dari ancaman rudal Korut.



(FJR)