KJRI New York: Tidak Ada WNI Jadi Korban Ledakan di Manhattan

Willy Haryono    •    Minggu, 18 Sep 2016 16:26 WIB
ledakan new york
KJRI New York: Tidak Ada WNI Jadi Korban Ledakan di Manhattan
Agen FBI mengumpulkan bukti di lokasi ledakan di distrik Chelsea, Manhattan, New York, 17 September 2016. (Foto: AFP/SPENCER PLATT)

Metrotvnews.com, New York: Sebanyak 29 orang terluka akibat ledakan dahsyat di distrik Chelsea, Manhattan, New York, Amerika Serikat (AS), Sabtu malam waktu setempat. 

Dari 29 korban luka, tidak ada satu pun yang merupakan warga negara Indonesia. 

"Sejauh ini tidak ada laporan WNI yang jadi korban. Menurut polisi, terdapat 29 korban luka dan tidak ada yang meninggal dunia," ujar Yomi dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York kepada Metrotvnews.com, Minggu (18/9/2016). 

Melalui akun Twitter, Dinas Pemadam Kebakaran New York menyebut bahwa sebagian besar korban tidak mengalami luka serius. 

Wali Kota New York Bill de Blasio mengatakan ledakan ini merupakan "aksi yang disengaja," namun tidak ada indikasi yang mengarah ke terorisme. 


Wali Kota New York Bill de Blasio (kiri) dan Komisioner NYPD James O'Neill. (Foto: AFP)

Ledakan di New York terjadi sebelas jam setelah sebuah bahan peledak tipe IED meledak di sebuah tong sampah di dekat rute lomba lari dalam acara amal di kota kecil di Jersey Shore. Menurut Kepolisian New York (NYPD), bom di distrik Chelsea juga diduga kuat meledak dari dalam tong sampah. 

Dalam operasi penyisiran pascaledakan, polisi menemukan benda mencurigakan diduga bom berbentuk panci pressure-cooker yang diduga kuat berisi bahan peledak. Benda tersebut mirip dengan bom yang digunakan dalam aksi teror di Boston pada 2013. 

Sementara itu di Washington, Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden Barack Obama sudah mengetahui mengenai ledakan di New York. 

Dua calon presiden AS, Donald Trump dan Hillary Clinton, turut merespons ledakan. Trump menyatakan adanya sebuah ledakan bom di New York, bahkan sebelum otoritas lokal membuat pernyataan resmi. 

Clinton mengkritik Trump yang dinilai terburu-buru tanpa menunggu informasi resmi. "Saya rasa akan lebih bijak untuk menunggu informasi sebelum membuat kesimpulan apapun," ujar Clinton.


(WIL)