AS Tegaskan Berdiri di Belakang Warga Iran

Arpan Rahman    •    Sabtu, 06 Jan 2018 10:38 WIB
politik iranpolitik as
AS Tegaskan Berdiri di Belakang Warga Iran
Dubes AS untuk PBB NIkki Haley dalam sebuah pertemuan di DK PBB, New York, dalam membahas masalah Iran, Jumat 5 Januari 2018. (Foto: AFP/Getty/Drew Angerer)

New York: Amerika Serikat (AS) menyerukan pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB untuk menunjukkan kepada pemerintah Iran bahwa "seluru dunia menyaksikan" respons mereka terhadap gelombang demonstrasi yang terjadi sejak akhir bulan lalu.

Puluhan ribu orang turun ke jalanan kota-kota Iran guna memprotes stagnasi ekonomi, kenaikan harga, dan ketakutan akan represi politik. Teheran merespons dengan menutup akses ke beberapa aplikasi media sosial serta menayangkan rekaman siaran demonstrasi pro-pemerintah.

Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB, memuji pendemo anti-pemerintah. Ia mengatakan bahwa "dunia harus memuji keberanian mereka," dan bahwa AS "berdiri tanpa ragu dengan orang-orang Iran yang mencari kebebasan bagi diri mereka sendiri."

"Rezim Iran akhirnya mendapat pemberitahuan: Dunia akan menyaksikan apa yang Anda lakukan," katanya, pada Jumat, seperti disitat Independent, Sabtu 6 Januari 2018.

Dia menambahkan masyarakat internasional tidak dapat membiarkan Teheran membungkam pesan demonstran dengan memblokade media sosial.

Haley sebelumnya berkata demonstrasi tersebut adalah masalah hak asasi manusia di Iran. Presiden AS Donald Trump juga telah menyatakan dukungannya terhadap pemrotes anti-pemerintah.

Baca: 450 Orang Ditangkap dalam Demo Besar-besaran Iran

Dunia Maya Menyulut Pertempuran

Menteri Dalam Negeri Iran Abdolreza Rahmani Fazli mengatakan bahwa sekitar 42.000 orang ikut serta dalam demonstrasi anti-pemerintah pekan ini, yang berlangsung di lebih dari 80 kota. Sedikitnya 21 orang terbunuh sejak unjuk rasa pertama kali dimulai pada 28 Desember.

Saat demonstrasi mereda, ribuan pedemo pro-pemerintah juga turun ke jalan. Beberapa dari mereka mengusung foto Presiden Iran Hassan Rouhani dan melambai-lambaikan bendera nasional. Saluran televisi nasional meliputi demonstrasi pro-pemerintah ini, yang juga terjadi di puluhan kota.

Seorang ulama Iran Ayatollah Ahmad Khatami menyarankan agar pemerintah meredakan kerusuhan dengan menciptakan media sosial sendiri. Ia menilai "dunia maya menyulut api pertempuran."

"Ketika dunia maya ditutup, hasutan juga berhenti. Bangsa ini tidak mendukung jaringan sosial yang memiliki sistemnya berada di tangan Amerika Serikat," kata Khatami. 

Pemimpin Iran lainnya juga menuduh AS berperan dalam demonstrasi tersebut. Jaksa Agung Iran menuduh Agensi Intelijen Pusat AS atau CIA sebagai "perancang utama" demonstrasi tersebut.


Demonstran pendukung pemerintah di Teheran. (Foto: AFP)

Kedaulatan Iran

Duta Besar Gholamali Khoshroo mengatakan bahwa Trump sudah "menghasut orang-orang Iran buat melakukan tindakan yang mengganggu" melalui tweet-nya.

Dubes Rusia untuk PBB juga menuduh AS melampaui batas. Ia menyebut seruan untuk pertemuan darurat di DK PBB telah mengusik kedaulatan Iran.

Baca: Rusia Tuduh AS Cari-Cari Alasan untuk Tekan Iran

Trump amat vokal dalam mendukung demonstrasi di Iran, yang menurutnya merupakan tanggapan terhadap "rezim yang brutal dan korup."

"Orang-orang Iran yang hebat telah ditekan selama bertahun-tahun," tulisnya di Twitter. "Mereka lapar akan makanan dan kebebasan. Selain hak asasi manusia, kekayaan Iran juga sedang dijarah. WAKTUNYA UNTUK PERUBAHAN!" pungkas dia.

 


(WIL)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

1 day Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA