Trump Sebarkan Klaim Palsu Terkait Demo Paris

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 05 Dec 2018 10:44 WIB
amerika serikat
Trump Sebarkan Klaim Palsu Terkait Demo Paris
Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP).

Amerika Serikat: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menyebarkan informasi bohong terkait demonstrasi di Paris, Prancis. Dalam informasi itu disebutkan bahwa sekelompok warga Paris menginginkan sosok Trump ketimbang Presiden Emmanuel Macron.

Trump mengunggah ulang informasi itu tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Padahal, Trump selama ini selalu menyerukan semua orang agar melawan berita palsu.

Lewat akun Twitter, Trump me-retweet sebuah cuitan dari akun milik aktivis mahasiswa konservatif AS, Charlie Kirk. Informasi dari Kirk itu belum dapat dipastikan kebenarannya.

"Terjadi kerusuhan di Prancis akibat pajak bahan bakar yang radikal. Media hampir tidak menyebutkan ini. Eropa terbakar, mereka ingin menutupi pemberontakan kelas menengah melawan budaya Marxisme. Teriakan 'Kami menginginkan Trump' menggema di jalanan Paris,'" demikian cuitan Kirk yang diunggah ulang Trump, dilansir dari laman CNN, Rabu 5 Desember 2018.

Baca: Warga Demo Harga BBM, Presiden Prancis Masih Bungkam

Gedung Putih tidak menanggapi permintaan CNN untuk berkomentar mengenai hal tersebut.

Prancis saat ini tengah demo besar-besaran akibat kenaikan biaya bahan bakar. Demonstran yang dikenal sebagai 'rompi kuning' memenuhi jalan-jalan di Negeri Menara Eiffel itu selama beberapa pekan terakhir.

Akibat insiden tersebut, sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 600 lainnya terluka. Namun, pada Selasa kemarin, pemerintah Prancis setuju untuk menangguhkan penaikan harga bahan bakar.

Klaim 'Kami menginginkan Trump' juga disampaikan seorang penyiar radio Rush Limbaugh pada Senin kemarin. Namun klaim tersebut juga belum dapat dibuktikan.

"Kalian tahu apa yang terdengar dalam aksi protes? Saya tahu beberapa orang yang ada di sana. Ada beberapa orang mengenakan rompi kuning dan berteriak, 'Kami menginginkan Trump' di Paris," tutur Limbaugh.


(WIL)