5 Orang Tewas dalam Protes Venezuela, AS Evakuasi Keluarga Staf Kedubes

Arpan Rahman    •    Jumat, 28 Jul 2017 15:49 WIB
konflik venezuela
5 Orang Tewas dalam Protes Venezuela, AS Evakuasi Keluarga Staf Kedubes
Aksi lempar batu dari seorang pedemo anti-Pemerintah Venezuela (Foto: EPA).

Metrotvnews.com, Caracas: Bentrokan antara pasukan keamanan Venezuela dan demonstran menewaskan lima orang selama demonstrasi terakhir yang dipimpin oposisi untuk memprotes pemilihan pada Minggu lusa 30 Juli. Para kritikus berpendapat rusuh itu menandai berakhirnya demokrasi di negeri kaya minyak.
 
Saat krisis Venezuela semakin runcing, maskapai Kolombia Avianca membatalkan operasinya di negara tersebut, pada Kamis 27 Juli 2017. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan, pihaknya memerintahkan anggota keluarga karyawan AS di kedutaan besarnya di Caracas untuk pergi menjelang pemilihan tersebut.
 
Pemilihan Majelis Konstituante yang kontroversial dijadwalkan pada 30 Juli. Kalangan kritikus Presiden Nicolas Maduro berencana memberi tekanan lebih kuat pada pemimpin sayap kiri yang tidak populer. Mereka  akan mengadakan demonstrasi besar yang disebut 'Rebut Venezuela' pada Jumat 28 Juli 2017.
 
"Jika kemarin dan hari ini jalanan sepi, besok kita harus mengambil alih seluruh Venezuela," kata anggota parlemen oposisi Freddy Guevara, merujuk pada serangan anti-pemerintah dalam dua hari terakhir.
 
Menteri Dalam Negeri Nestor Reverol memperingatkan bahwa protes dilarang Jumat sampai Selasa, sebab membuka kemungkinan lebih banyak kekerasan di Venezuela yang bergejolak. Banyak orang Venezuela merasa risau dan sudah menimbun makanan sambil berdiam dalam rumah.
 
Pada Kamis, Kemenlu AS juga mengizinkan keberangkatan relawan pegawai pemerintah AS di Kedubes di Caracas.
 
Presiden Donald Trump telah mewanti-wanti bahwa pemerintahannya dapat memberlakukan sanksi ekonomi atas Venezuela jika Maduro meneruskan keputusan mendirikan superbody legislatif yang dikenal sebagai Majelis Konstituante.
 
Majelis Konstituante akan memiliki kekuatan untuk merevisi konstitusi -- dan memutus jalur badan legislatif yang dipimpin oposisi. Majelis baru itu disebut pihak oposi akan memperkuat kediktatoran di Venezuela.
 
Sedikitnya 108 orang tewas dalam kerusuhan anti-pemerintah yang mengguncang Venezuela sejak April. Saat itu, pihak oposisi melancarkan demonstrasi menuntut pemilu yang bebas dan adil demi mengakhiri hampir dua dekade pemerintahan sosialis.
 
Serangan anti-Maduro
 
Banyak jalan tetap diblokir dan senyap, Kamis, saat mogok kerja nasional memasuki hari kedua. Banyak daerah pedesaan dan lingkungan perkotaan kelas pekerja yang sibuk, pemogokan tersebut tampaknya kurang didukung besar-besaran daripada aksi mogok sehari, pekan lalu.
 
Venezuela sudah penuh dengan toko dan pabrik tutup, di tengah resesi empat tahun yang melanda, efektivitas pemogokan pun bisa sulit diukur. Banyak rakyat Venezuela hidup melarat dan berkata mereka harus kerja keras.
 
Di Barinas, kampung asal mantan pemimpin Venezuela Hugo Chavez, hanya sekitar sepertiga bisnis ditutup, yang bertentangan dengan perkiraan resmi oposisi sebesar 92 persen secara nasional.
 
"Saya menentang pemerintah dan saya setuju kita harus melakukan semua yang kita bisa agar keluar dari kekacauan ini, tapi saya bergantung pada pekerjaan saya. Jika saya tidak bekerja, keluarga saya tidak makan," kata Ramon Alvarez. Tukang cukur berusia 45 tahun itu bercerita di tokonya di Barinas, seperti dinukil The Telegraph, Jumat 28 Juli 2017.
 
Para pendukung mengatakan bahwa Partai Sosialis yang berkuasa ingin mengkonsolidasikan kediktatoran dengan pemungutan suara pada Minggu. Telah muncul kecaman internasional yang meluas atas pemilu tersebut, dan AS pada Rabu mengumumkan sanksi atas 13 pejabat saat ini dan mantan pejabat untuk korupsi, merongrong demokrasi, dan turut serta dalam penindasan.
 
Pejabat pemerintah dan para calon anggota Majelis Konstituante mengadakan kampanye, Kamis, dengan sebuah pawai di Caracas bersama Maduro.
 
Pemimpin sayap kiri itu menegaskan bahwa majelis ini adalah satu-satunya cara untuk membawa perdamaian ke Venezuela. Ia mengecam ancaman sanksi lebih lanjut dari "kaisar Donald Trump," dan membalik tuduhan bahwa dia berubah menjadi seorang tiran.
 
Kematian meningkat
 
Kantor kejaksaan Venezuela menyebutkan, pria berusia 49 tahun tewas dalam demonstrasi di negara bagian Carabobo. Seorang lain berusia 16 tahun meninggal di kawasan kelas menengah El Paraiso di Caracas, pada Kamis.
 
Pria berusia 23 dan 30 tahun tewas di negara bagian Merida barat. Remaja laki-laki, 16, meninggal di lingkungan miskin di Caracas, Petare, dalam bentrokan pada Rabu 26 Juli. Lima orang juga tewas dalam kerusuhan selama pemogokan satu hari, pekan lalu.
 
Lebih dari 190 orang ditangkap saat mogok Rabu, kata kelompok hak asasi manusia Forum Hukum. Sejak April, pihak berwenang meringkus hampir 4.800 orang, di antaranya 1,325 tetap berada di balik jeruji besi, kata kelompok tersebut.
 
Para pemilih di akhir pekan akan memilih 364 perwakilan konstitusi yang tersebar di seluruh kota dan ibu kota negara bagian. Serta satu lagi kandidat sektoral dari kelompok demografis mulai dari mahasiswa hingga petani dan nelayan.
 
Koalisi Uni Demokratik memboikot pemungutan suara. Mereka katakan, penggunaan kandidat sektoral, yang harus mengumpulkan banyak tanda tangan dan mengajukannya ke dewan pemilihan yang cenderung berpihak pada pemerintah, adalah cara menyingkirkan calon anti-pemerintah.



(FJR)