AS-Rusia Capai Kesepakatan Awal untuk Perdamaian Suriah

Sonya Michaella    •    Senin, 12 Sep 2016 09:03 WIB
konflik suriah
AS-Rusia Capai Kesepakatan Awal untuk Perdamaian Suriah
Menlu AS, John Kerry (kiri) dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov (Foto: BBC)

Metrotvnews.com, Jenewa: Amerika Serikat (AS) dan Rusia akhirnya mengumumkan tercapainya kesepakatan tentang Suriah, dimulai dengan gencatan senjata sejak matahari terbenam pada Senin 12 September.

Berdasarkan kesepakatan itu, pemerintah Suriah akan mengakhiri misi tempur di daerah-daerah tertentu yang dikuasai oleh oposisi.

Seperti dilansir BBC, Senin (12/9/2016), AS dan Rusia akan mendirikan pusat bersama untuk memerangi kelompok-kelompok terorisme, terutama Islamic State (ISIS).

Rencana tersebut adalah salah satu hasil daripertemuan antara Menteri Luar Negeri AS, John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

"Skema itu akan membutuhkan kepatuhan baik dari rezim Bashar al Assad maupun oposisi untuk memenuhi kewajiban mereka," kata Kerry di Jenewa.



Setiap hari ledakan bom terdengar di Suriah/AFP

Pihak oposisi mengisyaratkan siap untuk mematuhi skema itu, katanya, dengan syarat pemerintah Suriah menunjukkan kesungguhan.

Sementara Lavrov mengatakan Rusia telah menginformasikan kepada pemerintah Suriah tentang kesepakatan itu dan pemerintah Suriah siap untuk mematuhinya.

Tujuh hari setelah dimulainya penghentian permusuhan, Rusia dan AS akan membentuk 'pusat implementasi bersama' untuk menumpas ISIS dan kelompok terorisme lainnya. Lavrov mengatakan pusat implementasi bersama itu akan memungkinkan pasukan Rusia dan AS untuk memisahkan teroris dari oposisi moderat.

"Kami telah sepakat tentang di daerah mana akan dilakukan serangan terkoordinasi tersebut, dan di daerah-daerah itu, dalam perjanjian netral yang disepakati oleh pemerintah Suriah juga, hanya angkatan udara Rusia dan AS akan fungsional," ungkapnya.


Kekacauan di Suriah/AFP

Tetapi, Lavrov menambahkan bahwa Angkatan Udara Suriah akan berfungsi di daerah lain, di luar daerah yang telah dipilih untuk kerjasama militer Rusia-AS. Lavrov dan Kerry menekankan bahwa rencana skema tersebut bisa membuka jalan bagi suatu transisi politik.

"Skema itu lebih preskriptif dan berjangkauan jauh dibanding semua rencana sebelumnya, dan diterapkan oleh semua pihak, dapat memungkinkan berlangsungnya perundingan-perundingan politik tentang masa depan Suriah," kata Kerry.

Utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, menyambut kesepakatan itu dan mengatakan bahwa PBB akan mengerahkan segala upaya untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.


(WIL)