Hakim Lawan Perintah Trump untuk Larang Keluarga Suriah ke AS

Arpan Rahman    •    Sabtu, 11 Mar 2017 14:06 WIB
pemerintahan as
Hakim Lawan Perintah Trump untuk Larang Keluarga Suriah ke AS
Kondisi Suriah yang hancur memicu pengungsi warga ke negara Barat (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Seorang hakim federal Amerika Serikat (AS) memblokir larangan perjalanan baru terhadap keluarga Suriah. Mereka, yang ingin melarikan diri dari tanah airnya yang dilanda perang, bermaksud pergi ke Wisconsin.
 
Putusan ini jadi yang pertama oleh seorang hakim sejak pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan revisi larangan perjalanan pada Senin 6 Maret. Demikian diungkapkan juru bicara jaksa agung di Washington, yang telah memimpin negara-negara bagian menantang larangan tersebut.
 
Seorang pria Muslim Suriah, yang diberi suaka dan menetap di Wisconsin telah bekerja sejak tahun lalu, memenangkan persetujuan pemerintah Amerika Serikat (AS). Istrinya dan putrinya yang berusia 3 tahun bisa meninggalkan kota Aleppo yang hancur dan bergabung dengannya.
 
Pria, yang tidak diidentifikasi karena faktor keselamatan keluarganya, mengajukan gugatan federal di Madison pada Februari. Ia mengadukan larangan perjalanan pertama Trump telah keliru menghentikan proses visa bagi keluarganya. Hakim distrik AS Michael Conley menyusun tantangan yang menyisihkan aturan itu setelah seorang hakim federal di negara bagian Washington memblokir seluruh perintah perjalanan Trump.
 
Setelah Trump meneken perintah eksekutif baru, Senin, pria Suriah itu mengajukan tuntutan baru pula, pada Jumat sore. Ia laporkan perintah itu masih berupa larangan anti-Muslim yang melanggar kebebasan beragama dan hak untuk diproses. Dia minta Conley memblokir penegakan hukum terhadap keluarganya.
 
Hakim Conley mengabulkan permintaan itu, berkata bahwa ada ancaman setiap hari atas istri dan anak pria Suriah tersebut yang dapat menyebabkan mereka "terluka". Dia mengeluarkan perintah menahan sementara pembatasan terhadap keluarga ini. 
 
Bukan memblokir seluruh larangan perjalanan. Sederhananya, hanya mencegah pemerintah Trump melarang keluarga ini datang ke AS sambil menunggu sidang hingga 21 Maret.
 
Para pembela memuji putusan itu sebagai tanda bahwa perintah revisi Trump bisa dianulir dengan cara yang sama seperti yang pertama, yakni pengadilan federal digagalkan dengan putusan meluas secara nasional.
 
"Perintah ini terus mencabik-cabik keluarga yang terpisah dan menyebabkan rasa sakit tidak perlu dan kecemasan bagi ribuan orang. Inilah kebencian dan ketakutan dalam kemasan yang berbeda," kata Margaret Huang, direktur eksekutif Amnesty International AS, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Guardian, Sabtu 11 Maret 2017.
 
Kementerian Kehakiman AS membela larangan tersebut. Juru bicara Nicole Navas berkata, lembaga pengacara yang mengkaji tinjauan atas gugatan itu dan menolak berkomentar lebih lanjut soal putusan Conley.
 
Trump mengeluarkan perintah eksekutif pada Januari melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Muslim, termasuk Suriah, memasuki AS. Hakim distrik AS James Robart di negara bagian Washington memblokir seluruh instruksi itu pada 3 Februari.
 
Revisi perintah dikeluarkan, Senin, menghapus Irak dari daftar negara terlarang, dan akan menutup sementara program pengungsi. Berbeda dengan perintah pertama, larangan baru tidak akan mempengaruhi pemegang visa saat ini dan menghapus isi yang memuat prioritas kepada kelompok minoritas agama tertentu.
 
Hawaii mengajukan gugatan menantang larangan baru, pada Rabu; negara-negara bagian lain dengan jajaran pengacara asal Demokrat berencana untuk menuntutnya, pekan depan.
 
Merujuk gugatan pria Suriah itu, dirinya melarikan diri dari negaranya demi menghindari kematian yang hampir pasti di tangan dua faksi militer. Salah satu kelompok blok-Sunni bertempur melawan rezim Presiden Bashar al-Assad dan kelompok lain berperang mendukung Assad. Pasukan pro-Assad mengira, dia bersimpati ke kubu seterunya dan tentara anti-Assad menargetkan nyawanya karena dia seorang Sunni yang beredar ke daerah-daerah pro-Assad buat mengelola bisnis keluarganya.
 
Kedua belah pihak menyiksanya dan mengancam akan membunuhnya, menurut gugatan tersebut. Pasukan pro-Assad juga mengancam akan memperkosa istrinya. Dia datang ke AS pada 2014 dan diberi suaka tahun lalu. Dia kemudian mulai mengajukan petisi mencari suaka untuk istri dan putrinya.



(FJR)

Pelaku Serangan London Tak di Bawah Kendali ISIS

Pelaku Serangan London Tak di Bawah Kendali ISIS

9 hours Ago

Tidak ada bukti bahwa pelaku serangan, Khalid Masood tergabung dalam kelompok radikal mana pun…

BERITA LAINNYA