KTT GNB Tak Akan Terpengaruh Gejolak di Venezuela

Andhini    •    Jumat, 16 Sep 2016 20:20 WIB
ktt gnb
KTT GNB Tak Akan Terpengaruh Gejolak di Venezuela
Wajah Presiden pertama RI Soekarno terpampang di KTT GNB Venezuela (Foto: Dok.Kemenlu RI)

Metrotvnews.com, Pulau Margarita: Krisis ekonomi dan gejolak politik yang melanda Venezuela diyakini tidak akan mempengaruhi forum yang diselenggarakan di Pulau Margarita, Venezuela 17-19 September 2016. 
Bahkan kondisi di internal Venezuela saat ini menjadi momen penting untuk dibuktikan kepada dunia bahwa negara tersebut mampu melewati konflik internalnya.
 
Hal ini disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Venezuela Mochammad Luthfie Wittoeng ketika menerima rombongan wartawan Indonesia di Bandara Internasional Santiago Marino Caribbean di Pulau Margarita, Jumat (16/9) waktu setempat.
 
"Malah kita lihat beberapa hari lalu ada demo-demo tapi sejauh ini semua aman terkendali. Di sini ada kelompok-kelompok itu semua pendukung pemerintah yang mendukung supaya ini semua berjalan lancar," kata Luthfie, kepada wartawan, Jumat (16/9/2016).
 
Indonesia melihat persiapan Venezuela sebagai tuan rumah KTT GNB sudah cukup matang. Meski diakui pengamanan di seputar Caracas dan Pulau Margarita berlangsung cukup ketat sehingga tidak perlu ada kekhawatiran KTT GNB akan diboikot para demonstran.
 
"Itu karena kewajiban dia sebagai ketua, bahwa ada kendala ekonomi. Kalau ini lancar dunia akan melihat bahwa sebenarnya Venezuela bagus. ini momen yang baik bagi Pemerintah Venezuela," tandasnya.
 
Peran strategis harus dimainkan GNB
 
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan dalam pernyataannya bahwa Gerakan Non-Blok harus memainkan peran strategis di abad-21.
 
"Di abad ke-21 Gerakan Non Blok (GNB) harus memainkan peran strategis, menjadi mitra global yang bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi rakyatnya," ucap menlu pada pertemuan tingkat Menteri GNB menjelang berlangsungnya KTT GNB ke-17.
 
"Tema KTT GNB ke-17 'Perdamaian, Kedaulatan dan Solidaritas bagi Pembangunan' merupakan prinsip-prinsip dasar dari pembentukan GNB. Namun setelah 55 tahun sejak terbentuknya GNB dunia masih dibayangi dengan kurangnya perdamian, belum tercapainya kedaulatan dan solidaritas," imbuhnya.


Menlu Retno Marsudi di KTT GNB (Foto: Dok. Kemenlu RI)
 
Hal ini dapat dilihat dari berbagai tantangan dan krisis yang dihadapi dunia saat ini, seperti ketidakseimbangan pada politik dan ekonomi global, krisis pengungsi, ancaman dari terorisme, radikalisme dan ektrisme serta konflik dan ketidak percayaan antar negara termasuk diantara negara GNB.
 
Setidaknya ada tiga langkah nyata mewujudkan GNB di abad-21. Pertama, GNB perlu memperkuat semangat multilateralisme dimana seluruh negara memiliki suara yang sama. 
 
Kedua, GNB juga harus memberikan kontribusi terhadap upaya penanganan tantangan ekonomi global melalui kemitraan global yang melibatkan seluruh pihak, termasuk kerja sama antar negara maju dan berkembang.
 
Ketiga, negara-negara GNB juga perlu segera melakukan benah diri internal terkait cara kerja GNB agar tidak terjebak menjadi talk shop organization. Benah diri sangat diperlukan agar GNB menjadi organisasi yang memiliki kredibilitas tinggi, relevan, dan efektif dalam penanganan masalah global. 



(FJR)